si rambut ikal

 


Tiba-tiba aja kepikiran mau cerita sesuatu.

Tadi pagi, aku pergi ke Indomaret dekat sekolah. Indomaret yang udah jadi tempat belanjaku sejak sekolahku SMP di sini. Mungkin dulu aku menganggap seperti tempat belanja biasa. Nggak ada memori, nggak ada kesan khusus. Bolak-baliku pun karena kepentingan transaksi.

Tapi tadi pagi saat aku berbelanja, aku melihat salah satu tukang parkir di Indomaret itu berganti gaya pakaiannya. Biasanya pakai baju rebel khas tukang parkir. Kaos oblong, celana gombrong, dan sesekali bertopi piknik untuk menghindari panas. Tapi pagi tadi aku lihat pakaiannya rapih. Rambutnya yang biasa ikal, dicatok lurus sepanjang leher. Terlihat klimis tanpa topi. Kali ini dia berjaket levis hitam, dengan celana levis sepasang selutut. Bahkan terlihat beberapa aksesoris emblem dan pin di jaket levisnya berwarna warni. Skena kata orang. Mungkin gaya baru.

Tukang parkir Si Rambut Ikal.

Bukan sebuah masalah. Cuma hari ini baru pertama kalinya aku melihat gayanya berubah setelah beberapa tahun lalu dia menjadi orang yang paling mencuri perhatianku ada dan selalu ada.

Tahun 2016, pertama kalinya aku dibolehkan pegang handphone. Karena sejak 6 tahun aku bersekolah di asrama, handphone jadi barang asing yang tidak pernah aku punya. Di tahun ini, belajarku genap selesai, dan kepentingan baru bermunculan, salah satunya koordinasi melalui HP. Dan karena kala itu uangku belum cukup, aku dipinjamkan HP dari ketua Yayasan. Masih kuingat sekali, HP nya bermerek LG klasik.

Bodohnya, baru beberapa hari aku pakai, dia raib begitu saja.

Ketika hendak membeli sesuatu di Indomaret, aku meninggalkan HP itu begitu saja di saku motor. Belum sampai lima menit, saat terburu-buru lari kembali ke motor, dia sudang menghilang. Perasaan bersalah, takut dimarahi dan benar-benar marah bercampur. Saat itu, aku ingat sekali, tukang parkir si rambut ikal itu ada di sana. Ikut panik ketika aku bilang bahwa HP ku hilang.

Tapi aku juga ingat sekali, dia masih sangat muda. Mungkin dia sendiri nggak punya kuasa untuk membantuku melihat CCTV, apalagi menangkap maling yang entah siapa. Dengan tangan kosong, akhirnya aku kembali dengan sangat santai dan mencoba membiarkan HP yang hilang sudah entah kemana.

Sejak tahun 2016, sudah 10 tahun berlalu hari ini. Dengan usahaku yang mati-matian, hari ini aku belanja untuk keperluanku bekerja di kantor. Membeli roti dan kopi sarapanku. Bukan posisi yang sempurna, tapi aku sangat bersyukur, ternyata aku punya progress berkembang. Aku punya catatan saat hari di mana HP ku hilang, aku masih siswa. Dan selama sepuluh tahun berlalu, aku bertumbuh menjadi mahasiswa, pekerja junior, hingga saat ini bisa kusebut diriku pekerja senior.

Tapi tukang parkir Si Rambut Ikal itu?

Dalam diam, saat gayanya berubah hari ini, “Wah, akhirnya ada perubahan”

Bersama orang-orang di sekitarku, sebenarnya aku sangat ingin tumbuh bersama. Mungkin tukang parkir Si Rambut Ikal itu juga termasuk orang di sekitarku, meski bukan dalam jangkauanku.

Tumbuh sejak aku SMP hingga menjadi guru SMP hari ini, aku kenal dengan banyak sekali owner rumah makan, tukang angkot, tukang parkir, abang gorengan, bapak jok motor, petugas oren dan semua yang selalu menyapaku sejak aku berangkat sekolah saat SMP, SMA, kuliah pertamaku, kerja, hingga kuliah keduaku akhir-akhir ini. Mereka memberi senyum, memperlihatkan bahagia, beberapa di antaranya jadi teman cerita, dan dari situ aku punya ukuran sendiri untuk menentukan ia turut bertumbuh denganku atau tidak.

Banyak di antaranya adalah orang tua yang menikmati masa tuanya, mencoba bekerja pada passion, melanjutkan bisnis keluarga, atau hanya sekedar melanjutkan hidup.

Tapi tukang parkir Si Rambut Ikal itu mungkin seusiaku, atau mungkin beberapa tahun di atasku. Saat pertama kali aku mengetahui keberadaannya sebagai tukang parkir junior, aku melihatnya sangat muda sekali. Dulu pikirku, masa depannya masih sangat panjang. Tapi ternyata aku betul-betul melihatnya berkembang dari tukang parkir junior, dan hari ini adalah tukang parkir senior.

Padahal bukan urusanku.

Tapi kadang aku bertanya-tanya,

            Apa dia nggak terpikir melanjutkan sekolahnya ya?

            Sebenarnya dia lulusan SMP, SMA atau SD?

            Di mana rumahnya ya?

            Selain menjadi tukang parkir, apa side job nya ya?

            Dia hidup dengan siapa ya?

            Apa dia juga menanggung biaya keluarga?

            Berapa banyak dia mendapat uang ya?

Penasaran yang tidak benar-benar ingin aku ketahui. Jawaban yang tidak benar-benar aku cari. Aku hanya bertanya dan bertanya. Mencoba meyakinkan diri bukan urusanku, tapi sesekali sekelabat terpikir. Entah peduli, entah iba barangkali.

Dalam diam, pikiranku penuh tanda tanya?

Di waktu sepuluh tahun ini, ternyata hidupku banyak sekali perubahan. Banyak sekali hal baru yang sudah aku coba. Banyak sekali gagal yang aku terima. Banyak sekali percobaan sekali, dua kali, atau entah yang ke berapa kalinya dan gagal. Tapi aku masih mencoba berdiri. Mencoba membuat perubahan meski tidak ada yang peduli. Kadang berusaha menjadi orang lain, padahal usahaku tetap tidak terlihat.

Kalau ada waktuku di kehidupan lain yang baru, sepertinya aku akan mencoba memastikan bahwa tukang parkir Si Rambut Ikal juga punya waktu untuk mencoba lebih banyak hal di dunia.

Terimakasih sudah menjadi sosok untuk aku perhatikan meski diam-diam.

 


Komentar

Postingan Populer