abnormal
Gue lagi susun berita buat Senin, tiba-tiba di jeda scroll TikTok, gue nemu satu berita janggal yang pastinya nggak bisa gue terbitin di manapun, karena gue akan mengedepankan emosi gue saat menulis.
Tapi karena ini sangat mengganggu pikiran gue, jadi terpaksa harus gue tulis saat ini juga.
Halo, gue Ossid.
Gue nggak tau info ini viral di kalian atau engga, tapi
beberapa hari belakangan gue denger ada kasus bunuh diri di GBK, namanya Fajar.
Sepemahaman berita yang gue baca di kanal berita, Fajar ini bunuh diri karena
masalah perundungan. But disclaimer first, Fajar bukan anak sekolah, bukan anak
kuliahan, bahkan usianya sudah 30 tahunan dan budak korporat aja.
Waktu awal berita kasus ini muncul, sebenernya gue udah
merasa janggal. Kok bisa ada laki-laki mapan bunuh diri, bahkan cara unik
dengan mempertontonkan kematiannya di public space itu janggal. Menurutku.
Kabar bahwa dia di-bully adalah dari unggahan instagramnya
yang dijadwalkan, dan di diary digitalnya tentang sejarah hidup yang dia tulis
sendiri di salah satu platform semacam diary atau blog.
Pertama-tama, gue mau mengungkapkan duka sedalam-dalamnya
untuk almarhum Fajar.
Kenapa
Janggal?
Laki-laki, usia 30 tahunan, ditemukan meninggal di bawah
rumput area GBK, indikasinya bunuh diri dari racun yang dia minum sengaja di botol
air mineralnya yaitu persis di Minggu, 6 September 2026 dini hari.
Hari itu, aku lagi dapet tugas liputan online karena erupsi Gunung
Anak Krakatau masuk siaga level III. Jadi hari itu, aku lagi aktif sekali
streaming dan scroll media sosial karena kerjaanku.
Dan kabar berita ini tuh ya janggal. Karena beberapa kasus
belakangan soal perundungan, biasanya melibatkan emosi dalam struktur belajar
yang terlalu menekan, misal di sekolah, kuliah, dosen, skripsi, dll. Kemudian
setelah aku lihat profil orangnya, seperti tidak ada masalah apapun. Kayak,
normal saja wajahnya. Bukan wajah putus asa.
Bahkan di hari itu, aku cuma membatin, “beruntung ya,
tempat kerjaku lingkungannya baik.”
Karena, tuduhan apa selain perundungan di tempat kerja kan.
Aku nggak punya gambaran apapun atas kasus yang terjadi ini.
Aku bener-bener murni iba, karena kupikir lingkungan kerjanya terlalu toxic,
atau seperti beberapa konten creator korporat yang sering dapat tugas nggak
masuk akal, atau sikut-sikutan khas karyawan.
Baru hari ini, persisnya tanggal 12 September 2026, aku baca
sebuah carousel di TikTok tentang rangkuman kejadian dan kronologi perundungan
yang dimaksud Fajar, seperti yang tertulis dalam unggahan terjadwalnya di
Instagram.
Tahu apa?
Ini putaran HOMO.
UNEXPECTED.
Jujur waktu baca carouselnya, aku marah banget. Benci
banget, kesel, karena kenapa harus aku keluarkan energi untuk mengibakan
manusia menyimpang?
Tanpa mengurangi rasa hormat, tapi isu bunuh diri dan merasa
dirundung karena permasalahan putus cinta di circle HOMO itu merusak reputasi relationship
sepasang manusia normal.
Aku nggak mau jelasin kronologinya, karena penjelasannya
sudah beredar di semua platform. Kalau belum sempat baca, ini link untuk cek kronologinya.
Intinya, permasalahan bunuh diri berasal dari grup jomok
laki-laki HOMO. Dan artinya juga, orang yang terlibat bukan hanya satu, dua,
atau tiga, tapi banyak. Bahkan ada narasi beredar soal hubungan dengan kata ‘pacaran’
dari beberapa nama yang semuanya LAKI-LAKI.
Astaghfirullah ya Allah.
Aku nggak pernah menyangka ini akan menjadi refleksi lagi.
Aku butuh sangat banyak waktu untuk mengerti kalau
permasalahan LGBT tidak menggores dan membangunkan trigger ku. Karena
permasalahan ini sangat ingin aku buang jauh-jauh-jauh-jauh dari kehidupanku
yang tenang ini.
Tapi lagi-lagi jadi kepikiran.
Bahkan dari ceritanya, circle jomok HOMO ini datang dari
ajakan mabar dan masuk grup mabar. Jujur ini nggak penting banget. Bahkan
uniknya lagi, Fajar yang putus cinta dari laki laki juga.
Sekarang yang aku pikirin lagi bukan soal gimana dia bunuh
diri, atau bagaimana tentang perundungan itu sendiri, atau gimana kejadiannya.
Aku cuma kepikiran, ada berapa banyak HOMO di grup itu sendiri?
TRIGGER
Kenapa jadi trigger-ku?
Karena soal HOMO dan isu LGBT adalah isu yang sangat aku hindari
seumur hidupku. Demi Allah, kalau akum au berdoa, mungkin mereka adalah orang
orang yang nggak mau aku temui. Aku punya perasaan sakit hati yang
sangat-sangat besar dari masalah ini.
Aku langsung, kepikiran. Berapa banyak orangnya, orang mana,
dari mana, siapa saja, siapa keluarganya, siapa lingkungannya?
Salah satu trust issue terbesarku adalah pernah suka
HOMO.
Dan mereka tu ga selalu menampik ketidaksukaannya pada
perempuan. Kebanyakan di antaranya menyembunyikan identitas orientasi
seksualnya agar bisa hidup normal seperti manusia pada umumnya. Sehingga,
seringnya mereka nggak menolak didatangi atau disukai perempuan. Bahkan nggak
sedikit yang menjalani hubungan normal, bahkan menikah dengan perempuan.
Dan perundungan di kalangan laki-laki pengecut tu bener
bener sangat melelahkan.
Bahkan laki-laki normal yang punya kecemburuan pekerjaan ke
perempuan aja bisa jahatnya mirip iblis. Apalagi laki-laki ke sesame laki-laki.
Bukan cuma pekerjaan, rebutan perempuan, apalagi rebutan sesama jenis.
Menurutku relationship mereka itu abnormal. Gila. Stress. Sakit.
Ya Allah Naudzubillah ya Allah.
Aku memang berteman baik dengan teman-teman yang sudah
kekutahui punya orientasi seksual menyimpang. Tapi doa yang selalu aku
panjatkan adalah, hindari aku dari pertemuan tidak sengaja dengan mereka.
Jauhkan aku dari emosi tidak stabil yang bisa muncul hanya karena trigger
seperti ini.
Jujur, denger kronologi almarhum Fajar ini aku lemes banget.
Bingung, sedih, bengong. Kayak apa ya, aku menyesal banget
meluangkan waktu untuk bersedih kepada orang yang dengan sengaja menyakiti
dirinya sendiri. Bukan soal bunuh dirinya, tapi soal bergabung, menikmati, dan
merasa patah hati atas bergabung yang dia mulai sendiri.
Umur 30 tahun itu bukan usia anak anak.
Pikirannya bisa jauh lebih matang.
Tapi kenapa isu ini terus terus berkembang.
Satu kekhawatiran besar dari apa yang terjadi,
Gimana kalau di antara mereka menjadi salah satu orang yang
berkamuflase seperti manusia normal? Dan bagaimana kalau salah satu di antara
mereka memilih hidup normal dengan menikahi perempuan tapi masih bertahan pada
kebiasaan lamanya? Gimana?!
Gimana nggak khawatir.
Menyeleksi laki-laki yang mapan, bertanggung jawab, dan
beragama pun masih punya celah selingkuh dengan perempuan. Dari isu ini, celahnya
menjadi bercabang, bukan hanya selingkuh pada perempuan, tapi bisa kemungkinan sesame
laki-laki.
Abnormal.
(saking marahnya, tulisan gue bolak balik ke aku, gue, aku, gue)
12926
.png)


Komentar
Posting Komentar