adoring

 


00.17 am.

Melebihi waktu malam untuk menghabiskan satu film yang lumayan menguras emosi dan men-trigger ­migrain kananku. Sampai laptopku ditutup, sesenggukan dan mata bengkak akibat menangis belum juga berhenti.

Aslinya, pukul 00.12 sudah selesai. Tapi kuhabiskan sedihnya, tetap duduk di hadapan credit film yang berjalan, mengusap beberapa air mata yang jatuh, dengan beberapa kali meneguk air putih karena dehidrasi.

Mungkin nggak akan jadi film favoritku, tapi Adoring punya kesan berbeda dari film-film yang kutonton.

Bukan Pecinta Hewan

Waktu baca sinopsis filmnya dan tertulis kalau film ini adalah kisah orang-orang pecinta hewan, aku sudah lebih dulu meremehkan. Aku menduga film ini tidak akan punya kesan bagus, karena kisahnya pasti nggak akan relate dengan persona yang aku punya. Bahkan aku nggak menyiapkan tisu seperti biasanya aku menonton film sedih lainnya.

Aku membiarkan film dengan soundtrack ceria di awal mengalir begitu aja.

Anjing, kucing, bahkan babi. Bahkan nggak pernah sedikitpun terpikir memelihara babi di rumah yang bersih. Tapi ini bukan film berlatar belakang Indonesia, jadi wajar ya kalau sedikit absurd dan nggak sesuai paham kulturku.

Aku bukan pecinta hewan, tapi juga nggak membenci hewan. Saat lihat hewan di Ragunan, atau beberapa kucing jalanan, bahkan kucing-kucing yang dipelihara sembarangan di asrama, aku nggak membenci mereka. Tidak menaruh perhatian saja. Tapi cukup membiarkannya berlalu lalang dengan tidak mencampuri urusan satu sama lain.

Tapi setelah lihat film ini,

“mungkin satu kucing di rumah boleh ya, hehe.”

Rating Pribadiku

Sebagai orang yang suka menonton film, tampilan dan editing film China tuh emang another level sih. Di antara semua film Asia, aku selalu suka suasana film China karena mereka selalu kasih sentuhan di bagian sinematografinya. Bahkan kalau diperhatikan dengan seksama, mereka membedakan color grading per cerita karakternya.

Aku kasih nilai 7.7/10.

Walaupun nontonnya sambil sesenggukan, tapi nggak bikin aku kasih nilai sempurna. Karena secara konflik, bisa dibilang nggak ada konflik yang rumit. Cuma cerita layaknya para pemelihara hewan di lingkungan apartemen.

7.7 nya tanda aku mengakui bahwa scene per scene nya bisa bikin nangis bombay. Paduan color grading, lagu, slow motion, dan narasi belakang yang mendramatisir ceritanya bener-bener sempurna. Aku nggak menemukan celah kekurangannya. Bahkan untuk ukuran film dengan berbagai profesi dari mulai kurir makanan, pelajar, pasutri baru, korporat, seniman, bahkan ada wartawan di sana, look wardrobe nya sesuai dengan bayangan.

Mereka dibuat cocok dengan tampilan, tanpa memberitahu secara rinci bagaimana cara mereka bekerja sesuai profesinya.

Gaya paling menarik di antara semua karakternya adalah si seniman animator digital itu. Bener bener dibuat gaya introvert, bahkan dideskripsikan sebagai penderita misofobia. Di mana khas sekali dengan latar belakang kebanyakan animator yang jarang bersinggungan dengan dunia luar, jadi, bakteri sebagai musuh bebuyutan udah jadi ciri khas seniman, terkhusus animator.

foto: color grading si animator digital

Ngobrolin ‘Color Grading’ Sedikit

Secara color grading, film ini kasih kita hint bahwa dalam tiap cerita itu punya satu tokoh utama untuk diperhatikan. Ibarat dalam hidup tuh, kayak mau kasih tau ‘kamu gapapa banyak masalah, yang penting kamu punya tujuan’. Nah tujuan yang dimaksud di film ini adalah titik balik dari semua kisah yang ada. Nggak selalu hewannya, tapi bisa siapa dan apa aja yang ada di sekitar tokoh utama.  

Misalnya di cerita seniman si animator digital, kisahnya dua orang dan satu kucing putih kecil. Warna putih dan abu-abunya itu mengarah ke si animator dan kucing, sedangkan warna mencoloknya ditaruh ke tokoh laki-lakinya dengan jaket hijau lumut. Seolah mau kasih tau kalau si cowo ini jadi karakter yang bakal bikin tokoh utamanya punya titik balik untuk jadi lebih baik.  

Jadi justru aku lihat karakter ini tuh fokusnya bukan di kucing. Kucing jadi media mereka pedekate aja. Tapi yang bikin si animator digital itu alergi terhadap bakterinya hilang adalah keinginan dia ngejaga kucing putih demi di cowo jaket hijau lumut itu.

Bahkan dalam scene nya, bagian si animator itu dikelilingi sama warna warni miniatur dan spidol yang ada di mejanya, dia selalu pakai baju putih. Dan satu satunya yang kembar dengan warna putihnya adalah si kucing.

Jadi dari awal aku udah tau kalo yang bakal jadi titik balik tu justru si cowo jurnalis jaket hijau. Dan bener aja, ternyata dia yang bikin si animator keluar dari zona nyaman dengan mau pegang kucing liar yang harusnya dia gatal gatal karena misofobia, tapi dia hadapi.

Bahkan semua color grading per karakternya dibuat cocok.

foto: color grading pasutri dan anjing militer

Dari awal, pasutri yang jatuh cinta setengah mati itu dibuat segar dengan pakaian pastel putih atau biru muda. Sedangkan anjing militernya berwarna hitam pekat, dan agresif. Dari sini udah keliatan kalo anjing militer ini bakal jadi karakter yang kasih titik balik cerita pasutri ini. Bener aja kan, ternyata anjing yang sehat itu tiba tiba sakit jantung dan menghembuskan napas terakhir persis saat si pemilik lagi take off di pesawat. Gimana nggak bikin sesenggukan coba. Ini agak merusak mental penonton si emang, tapi udah aku duga sebenernya dari awal. Cuma nggak disangka bakal mati gitu aja.

foto: color grading pasangan dan si babi

Lalu ada kisah pasangan dan si babi. Nah ini lebih unik. Kalau tadi si pasutri kasih kesan segar dan baru lewat pakaian serba pastel, nah si pasangan ini dibuat nuansa hangat dengan kebanyakan berwarna coklat. Warna baju yang dipakai, hampir selalu gelap kayak denim, hitam, merah tua, dan lainnya. Dan rumahnya berlatar kayu. Seolah spotlight nya dari awal bukan mereka berdua, tapi adalah si babi pink berkilau dan besar itu. Ini tuh hint kalau si babi lah tokoh utamanya. Dan bener kan, di akhir, si babi jadi spotlight dan selamatin pasangan ini karena udah bikin maling di rumahnya ketakutan.

 

foto: color grading dua anak remaja

Kemudian kisah dua anak remaja. Kebanyakan suasananya dibuat di luar rumah. Jadi cerah, biru langit, berangin, dan beberapa scene nya diarahkan ke pinggir sungai atau laut (kurang paham). Ini mau kasih gambaran bahwa energi anak remaja tu emang kayak gini, ceria. Kalau dua pasangan tadi tuh bener-bener mau kasih hint pasangan orang dewasa. Makanya suasananya dibuat hangat.

Nah, di scene dua remaja ini, spotlight nya bukan di anjing, bukan di cewe, bukan di si cowo buta. Di mana coba? Di sekolah! Ah aku ngeh banget ini dari awal. Soalnya semua latar sekolahnya dibuat warna mencolok. Seolah kisah mereka ini mau kasih tau kalau nggak ada yang lebih penting dari menyelesaikan pendidikan. Bener kan di akhir, fokusnya bukan di pindahan si cewe, anjing yang udah bisa memandu, atau si buta yang mulai mandiri, tapi mereka fokus bisa bersaing untuk lulus sekolah. Puas banget aku.

foto: color grading orang kaya dan si kucing

Kemudian di kisah kucing orang kaya dengan si bapak kesepian. Lagi-lagi fokusnya bukan di mereka berdua. Kalau dilihat dari warnanya, si kucing ini terlalu menyatu dengan warna perabotan di rumah si bapak. Dan si bapak nggak pernah pakai warna mencolok. Malah justru kontras warnanya ketika datang si kakak Angela (anak si bapak dari Amerika). Di awal datang di bandara, bahkan dia pakai baju pink dan riasan lipstik merah yang kontras.

Ternyata bener kan, titik baliknya yaitu si bapak kesepian dan bener bener di tahap sayang banget sama anaknya. Sampai nggak mau kehilangan si kucing karena dia mau tetap dihubungi anaknya. Dia juga bilang, bahwa satu-satunya kenangan dari keluarga mereka ya cuma si kucing itu. Karena ibu dan anaknya udah pindah ke Amerika.

Sebenernya masih banyak yang harus dibahas, tapi cukup segini aja.

Kesan yang Bagus

Meskipun sekali lagi aku nangis bombay, tapi untuk ukuran konflik film aku kurang cocok. Buatku, konflik itu rumit dan nggak ada solusinya adalah cerita terbaik. Jadi kalau ada kesimpualn happy atau sad ending yang jelas, justru aku ngerasa bahwa konfliknya terlalu cepat selesai.

Tapi karena film ini kasih aku banyak pelajaran, aku senang sekali bisa nonton film ini di malam menuju pagi yang agak mendadak.

Soalnya selesai nonton itu aku percepat di akhir karena sudah tau akan gimana akhirnya. Dan sebab migrain kananku udah muncul, jadi aku bener-bener bergegas tidur. Yang nggak ngeh ternyata paginya mataku sembab sekali seperti orang-orang overthinking di malam hari, padahal cuma perkara nonton film.

Dan dari film ini, walaupun semua ngebahas soal hewan peliharaan, tapi yang aku pahami bahwa titik balik manusia itu bisa dari hal yang nggak terduga. Mungkin hewan jadi salah satunya, tapi kadang kita nggak ngeh kalau tokoh utama di hidup kita yang punya peran lebih untuk mengubah sesuatu jadi lebih baik itu nggak selalu yang kelihatan atau beda. Di film ini mau kasih tau bahwa hewan, pendidikan, bahkan sesama manusia itu sendiri punya peran menjungkir balik dari mulai perasaan, mental, bahkan kondisi fisik secara umum.

Jadi, jangan remehkan hal-hal biasa yang terjadi sehari-hari.

Mungkin kita cuma bosan aja lihatnya.

Padahal untuk hal yang kurang menarik itu, cuma butuh media tambahan biar kelihatan. 


101626

Komentar

Postingan Populer