Kita Simpan Saja

 


Halo

Kamu mau tau nggak? 

Di cerita ini, aku cuma ingin berbagi beberapa hal yang mengusik dan terlalu bahagia benak sehingga aku merasa perlu untuk menceritakannya. Meski pada diriku sendiri lagi. 

Tahun 2025, usiaku masuk ke fase 27 tahun. Bukan waktu yang mudah dan sebentar. Cukup bikin deg-degan dan ngerasa terus terburu-buru karena masih banyak sekali yang harus aku kejar. Bahagia, finansial yang stabil, perasaan yang merdeka, hingga cinta. Aku nggak lagi banyak basa basi di tahun ini, karena kayaknya selama 26 tahun ke belakang hidupku terlalu banyak basa-basi. 

Bulan Februari, aku mulai punya kegiatan baru yaitu kuliah. Waktu sepulang kerja yang biasanya bisa aku pakai untuk merenung, menonton, atau sekedar tidur-tiduran jadi terkikis. Sedikit demi sedikit, pulangku jadi lebih larut. Tugasku nggak lagi hanya dari kantor, tapi juga kampus. Tugas kuliah, projek kelas, obrolan teman-teman baru, dan lain sebagainya. Waktuku jadi padat. Pagi jam 6.30 aku sudah mulai berangkat kerja dari kos, kemudian jam 7.30 sampai jam 15.30 kuhabiskan di sekolah untuk ngajar dan kerjain tugas-tugas kantor, pukul 16.00 aku harus sudah di halte busway untuk menunggu busway 7A ke Pasar Rebo karena jam 18.00 kelas kuliahku segera dimulai. Sampai pukul 21.30 aku minta diantar Wini sampai halte untuk menunggu bus menuju Lebak Bulus kembali ke kos. Mungkin sekitar jam 23.00 aku baru bisa bernapas lega setelah menghirup angin AC di kamar kos ku sebelum akhirnya aku benar-benar beristirahat dan tidur. 

Besoknya? Seperti itu dan berulang setiap hari. 

foto 1: kelas baruku di kampus baru

Biasanya juga, waktu setelah pulang kerja aku jadikan waktu santai untuk menyapa beberapa teman untuk chat atau telepon. Tapi aku baru sadar, ternyata aku udah sama sekali nggak melakukan itu. Bahkan pergi-pergi self reward untuk makan di restoran, nonton di bioskop, jalan-jalan di mall, atau sekedar berkeliling angkutan umum pun sudah nggak pernah aku lakukan lagi. Seringkali aku menganggap Pondok Indah termasuk jauh. Jalan ke Blok M terasa seperti akan ke Bekasi. Jauh dan ribet, pikirku. 

Kali ini, baru pertama kaliku sama sekali nggak menghubungi siapapun sebelum dihubungi terlebih dahulu. Aku nggak membuka obrolan sampai benar-benar penting untuk dibahas. Aku menarik diri untuk nggak tertarik pada tema yang amat menarik demi nggak tertarik dalam arus obrolan yang lebih panjang. Aku menahan diri. 

Entah aku menahan diri, atau memang aku jadi semakin nggak tertarik. 

Seringnya aku lebih takut menganggur. Beberapa kali tiap aku pulang malam, keluhannya selalu sama “setiap hari pulangnya malem terus”, tapi di waktu aku pulang sore. Kos ku terasa lebih mirip penjara. Berdiri pun malas. Jangankan untuk melakukan lebih banyak aktivitas, aku malah lebih memilih nonton, game di tab, atau sekedar balas balas chat yang justru lebih membosankan dari pekerjaanku sendiri. 

Jadi kayaknya, aku memang lebih suka bekerja. Sekalipun aku nggak kerja, di sekolah aku lebih banyak berkegiatan. Aku bisa di depan laptop, menyiapkan materi mata pelajaran untuk lusa mengajar, mengerjakan tugas kuliah, mengisi blog, membuat konten untuk tiktokku, atau sekedar ngobrol branstorm dengan teman-teman di asrama. Aku memang suka dan bahagia di sekolah. Jadi, nggak semua kerjaku untuk kantor, kadang untuk aku sendiri. 

Tapi salah satu hal yang hilang adalah tempat cerita anehku.

Biasanya aku punya ‘teman’ yang selalu suka cerita aneh-anehku. Tapi sekarang aku memang menguranginya. Menutup percakapan di whatsapp supaya tidak ada obrolan intens di aplikasi whatsapp. Mengurangi telepon mendadak untuk sleep call atau sekedar ngobrol. Tidak respon pesan random dan memilih untuk kembali dikenal menjadi orang yang monoton saja. Aku punya banyak alasan untuk itu. Aku punya banyak ketakutan untuk alasan alasan itu. 

foto 2: pesan yang tidak benar-benar sampai

Dalam malam yang sepi aku bertanya-tanya, ‘kenapa aku begitu nyaman begini?’. Tidak berusaha mencari, hanya mencoba untuk menemukan yang terbaik. Kadang kala aku berpikir, apakah aku bisa bertanya tentang perasaan lebih serius pada teman-teman dekatku? Mungkin mereka akan lebih paham aku untuk dijadikan teman seumur hidup, daripada aku harus mencari orang baru yang belum tentu benar-benar memberi paham tentangku. 

Sepi.

Sedikit bingung.

Tapi hidup yang seumur hidup lebih berisiko. Aku juga ingin menjalaninya dengan bahagia seperti saat aku melakukan pekerjaan di meja kerjaku. Aku ingin melaluinya senyaman aku ingin terus kembali bekerja daripada pulang ke kos untuk menonton film. 

Dalam diam, aku merenungi sikapku. 

Apa aku harus memperbaikinya? Yang mana? Sebelah mana? Menjadi seperti apa?

Aku tahu usiaku terus berlanjut. Mendapati orang yang penuh suka tapi tidak bisa disuka.

Apakah aku terlalu banyak menaruh syarat?

Menutup cerita nggak selalu benar-benar membuangnya. Aku cuma butuh waktu untuk tau bahwa semua yang pernah ada, lalu kemudian tidak berada, berarti hanya bukan milikku. Kalau di antara goresan berdua-duaan itu ada bahagia, mungkin hanya sebagai pengingat dengan siapapun aku siap asal bersama. Semoga aku nggak terlalu naif untuk memisahkan keraguanku. Aku nggak mau lagi menjadi salah dalam cerita tanpa rasa bersalah di dalamnya. 

Fokusku selanjutnya adalah menuju penantian atau diam dalam penantian. Karena tiada hari yang lebih baik tanpa penuh rasa bahagia dalam diriku sendiri. Menantang diri untuk menerima hari-hari yang baru daripada harus terkurung dalam ruang sesak berdua tanpa celah keluar atau masuk lebih dalam. Terasa sia-sia. 

Salah satu yang sangat aku syukuri dari hidup dan kegiatanku yang sangat monoton, aku masih tetap bisa bertemu orang baru di perjalanan berangkat sepulang kerja atau kampus. Beberapa di antaranta seiring aku lihat atau bahkan bebarengan naik angkutan umum yang sama. Melihat wajah segarpagi hari, memperhatikan outfit perginya, dan sesekali mencoba belajar riasan milik orang lain. 

Belajar itu luas. Mungkin aku nggak punya minat cari entertain lain untuk menghibur hati. Tapi pertemuan dengan banyak orang yang kukenal tanpa sapaan itu bikin aku jadi banyak sadar. Melihat wajah lelah sepulang kerja, ada sopir jaklingko yang sewot karena lelah, atau sekedar rengekan anak kecil dengan wajah orang tuanya yang lelah menanggapi. Aku belajar banyak hal. Aku belajar sejuta materi dalam ekspresi dan lagu cinta sehari-hariku.

Setelah aku sadari juga, lari pagiku di hari minggu, pulang bersepedaku di sore hari, atau jalan-jalan ke tempat yang jauh dan ramai berangsur hilang. Setelah di bulan Oktober tahun lalu kakiku bener-bener sakit, dan di bulan Februari disarankan dokter untuk minum obat radang tulang, ternyata aku nggak benar-benar bisa pulih. Jadi daripada memaksakan diri berjalan jauh atau berlarian yang nggak benar-benar bikin semangat, aku memilih untuk meniadakan sekaligus. 

Hari ini kedua kalinya coba melakukan aktivitas baru di Sabtu sore yaitu berenang. 

foto 3: aktivitas Sabtu soreku

Setidaknya ada yang aku tunggu di akhir pekan. 

Semua yang pahit,

Kita simpan saja.



Ossidduha

9825


Komentar

Postingan Populer