bukan permainan,
Halo,
Seperti biasa, aku mau berbagi sedikit.
Kemarin, ada salah satu murid aku di sekolah mengundurkan diri. Artinya dia menyatakan diri untuk nggak melanjutkan sekolah di sekolahku lagi. Muridku ini anak yang baik, belajarnya rajin, hafalannya lancar, nggak pernah ada masalah atau melanggar peraturan di asrama, bahkan cukup pendiam. Kabar bahwa orang tuanya memutuskan untuk menarik anaknya mengundurkan diri dari sekolah dan diiyakan oleh anaknya, sebenarnya agak sedikit sakit dan sedih. Terlebih muridku ini sudah bersekolah di sekolahku sejak 5 tahun lalu saat pertama kali masuk SMP.
Mungkin buat beberapa sekolah, mutasi sekolah, pindah sekolah atau keluar dari sekolah (swasta) adalah hal biasa. Tapi di sekolahku sangat nggak biasa. Ada ikatan keluarga, batin, cinta, teman, adik dan lainnya yang sangat tidak bisa dibiarkan pergi begitu saja.
Bahkan meski aku baru punya pengalaman mengajarnya saat kelas 11 yaitu tahun lalu, aku pun sudah langsung mencoba memahami dan mengerti hari-hari bersama dia dan teman-temannya di kelas. Maksudnya, hubungan kami di sekolah bukan hanya sekedar guru dan murid saja. Aku semaksimal mungkin menjadi temannya, gurunya, kakaknya, dan apapun yang bisa meraih dan memberi cinta buat semua anak, termasuk dia.
Tapi demi bahagianya, demi lega batinnya, demi sehat badannya, aku menerima seikhlas mungkin.
Mungkin Allah SWT punya rencana. Mungkin saja di tempat baru yang lain, jiwa nya lebih berbahagia, cintanya lebih banyak, tenangnya lebih luas, dan semangatnya lebih hidup.
Hidup di Asrama Bukan Main-Main
Aku mengalami tinggal di asrama sejak tahun 2010 sampai tahun 2024. Selama itu, apakah aku tenang dan berbahagia, selalu? Tentu tidak.
Ingin kabur, lelah, kesal dengan banyak orang, waktu tidur yang sedikit, bertengkar dengan teman, ingin terlihat mencolok, ingin terlihat hebat, berambisi jadi yang terbaik, persaingan ketat, hingga turut terlibat dalam masalah orang pun nggak terelakkan. Mungkin bisa dibilang, aku lebih banyak marah di asrama. Jadi orang yang cukup tempramen dan sensitif seakan bukan hal aneh lagi untuk orang yang tinggal di asrama.
Artinya, nggak mudah.
Tapi apa iya sih, sumber masalahnya itu masuk asrama? Ya enggak juga.
Menurutku di asrama ini adalah tempat di mana kita harus bisa maklumin banyak hal. Mungkin kalau di CV pekerjaan ada klasifikasi keahlian ‘bisa bekerjasama dengan tim’, harusnya anak asrama bisa maju paling depan. Bayangkan saja, bertahun-tahun, harus hidup berdampingan dengan teman beda suku, habit, intonasi bicara, selera, mood, dll. Dan harus mencoba untuk saling memahami.
Ibarat, di kala orang dewasa baru mencoba berumah tangga dan bertetangga saat sudah berkeluarga, anak-anak yang tinggal di asrama sudah mencobanya dulu. Bayangkan hidup di cluster yang lebih padat dari perumahan, saling menegur tetangga kamar, ikut berkoordinasi jika ada acara, ngobrol antar tetangga kamar, menggosip satu sama lain, marah-marah karena berisik dan lain sebagainya sudah dicoba oleh anak-anak di asrama.
Jadi hidup di asrama, yaa bukan main-main.
Wajar jika masuk asrama bisa memicu stress. Bukan salah mereka, bukan salah asrama. Tinggal di asrama kan pilihan. Dan dirimu secara pribadi mau melarutkan stress itu jadi suatu hal yang buruk bisa, mengalihkannya kepada hal positif pun sangat-sangat memungkinkan.
Tapi apakah mereka yang nggak kuat dan memilih untuk keluar dari lingkup asrama itu lemah? Jawabannya enggak juga. Kadang tiap manusia itu punya batas. Ibarat gelas, tiap bentuknya punya batas penuh. Supaya minumnya mudah, maka gelas harus diisi pas. Kalau kurang maka hausnya tidak terpenuhi, tapi kalau terlalu penuh maka baju, meja dan sekitarnya bisa ikut basah ketumpahan. Nah manusia juga begitu. Tiap kita butuh porsi emosi yang pas sama diri kita. Lingkungan nggak bisa berubah tiba-tiba, jadi manusia yang punya insting untuk menyesuaikan keinginan emosi kita.
Kalau dipaksakan, kita jadi banyak menahan diri, dan akhirnya itu hanya menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Suatu waktu di hari yang amat sejuk pun, kita bisa aja menangis tersedu. Jadi ya sesekali ketika waktunya pas, tempatnya tenang, kondisi mendukung, luapkan. Boleh marah, boleh menangis.
Hidup Itu Pilihan
Salah satu bentuk syukurku dalam nikmat yang Allah kasih adalah bertahan. Bagiku, berada di asrama, menikmati suasananya, nyaman berteman, gembira berkegiatan, dan seluruh lingkupnya itu nyaman duniawi. Mungkin karena aku butuh lingkungan seperti ini sebagai bentuk pelampiasan. Tapi mungkin juga aku tipe orang yang butuh tantangan. Aku belajar banyak hal di sini, di asramaku.
Mungkin aku banyak berubah. Cenderung jadi agresif secara emosi. Mudah sekali marah meledak-ledak. Dan butuh waktu bertahun-tahun untuk mengubah emosi itu menjadi nilai yang lebih positif. Yaitu setelah selesai kuliahku.
Maka itu hidup pilihan.
Ketika kamu ingin maju, kamu bisa maju sesukamu. Boleh berjalan, berlari, meroda, atau gaya apapun. Intinya kita punya tujuan maju. Tapi prosesnya, kamu harus memilihnya sendiri. Memutuskan ingin maju yang seperti apa.
Aku memilih maju yang susah.
Dan aku bahagia atas susah yang pernah aku lewati. Dan sekarang aku cukup menikmati hasil dari susah yang sudah aku terima di masa sekolahku.
Kalau ada satu waktu yang ingin aku pilih untuk aku berbahagia, mungkin menyetujui untuk disekolahkan di asrama adalah bahagiaku.
___________________
Aku yakin, di tempat di mana kita berpijak, itulah tempat kita bisa meluaskan hati dan mencari bahagia. Semoga semua anak-anakku yang sudah keluar dari asrama, bisa menemukan bahagia yang sejati yang Allah SWT ridhoi dalam perjalanan hidup kalian. Semoga Allah SWT ridho dan bangga atas usaha kita.
Ossidduha
241025



Komentar
Posting Komentar