Pelajaran Semingguku
Satu minggu menetap di rumah kakakku bukan sekedar liburan. Diam-diam aku belajar parenting, aku belajar karakter keponakanku, aku pelajari lingkungannya, aku pelajari emosi orang tua, dan aku belajar soal emosi personal baik itu dari kakakku, maupun kakak iparku.
Sejak kecil, aku hidup di antara keluarga yang ramai. Aku sendiri 5 bersaudara, dan kami diasuh penuh oleh kedua orang tua kami di rumah yang sederhana. Mungkin selama aku menjadi anak, aku nggak punya tenggang rasa untuk memahami perasaan mamah atau papahku sebagai orang tua. Aku hanya tau bahwa anak perlu dipenuhi kehidupannya, dituruti hiburannya, dan ditenangkan tangisnya. Tapi ketika aku datang dan menginap satu minggu di rumah kakakku, usia 27 tahunku sudah punya sudut pandang berbeda menilai kondisi rumah tangganya. Hiruk pikuk, senang, dan emosi.
Aku lupa, apa dulu mamah papahku juga begitu atau tidak. Tapi mungkin, beberapa memori buruk itu hilang seiring waktu. Dan seminggu di rumah kakakku, seperti masuk ruang konsultasi yang di dalamnya aku diminta untuk belajar sendiri.
Btw, i'm crying so hard rn 🙃
Anak Nomor Sekian
Anak kakakku ada 4. Susunan komposisinya terbalik dari urutan saudara kandungku. Anak 3 pertamanya laki-laki, dan anak keempatnya perempuan. Umurnya berurutan, 8, 5, 3, 1.
Berbeds ketika tahun 2021 aku berkunjung lebaran, mereka masih sangat kecil-kecil. Bahkan anak perempuannya belum ada. Jadi di tahun ini, aku sedikit kaget sama beberapa culture yang mungkin ga pernah aku pelajari dari buku-buku bacaanku. Semua teori yang ada seketika antara bekerja atau tidak bekerja. Karena lagi-lagi, di lapangan semua pengalaman lebih bermain secara fisik.
Kakakku usianya 30 tahun, dan kakak iparku mungkin sekitar 35 atau 36 tahun. Pasangan muda, dan memang kakakku menikah muda. Tapi at least, kakak iparku sangat bertanggung jawab dengan keluarganya. Itu kabar paling bahagia yang pernah aku dapatkan seumur hidupku.
Sebagai orang yang cukup aktif di media sosial, aku banyak makan artikel dari mulai fakta sampe hoax. Tentu tidak ditelat bulat-bulat, tapi beberapa di antaranya aku renungi dan kucari tau sebab musababnya.
Aku anak kedua. Anak yang tumbuh sebagai adik, dan kakak sekaligus. Mungkin nggak sepenuhnya, tapi aku paham karakter kakak dan adik-adikku. Buat aku, urutan kelahiran anak dan karakternya itu unik sekali. Dari buku ralaman psikologi, beberapa di antaranya benar, tapi mungkin beberapa di antaranya menyesuaikan asal, lingkungan dan personaliti manusia itu sendiri.
Kakakku yang sensitif, sedikit sering marah, tidak sabaran, khas anak pertama. Sedangkan aku si manusia berdarah dingin, seringnya tidak peduli, tapi bisa meledak sewaktu-waktu. Lalu adik di bawahku yang sangat feminim, sangat-sangat perasa, seringnya menangis, tapi ketenangannya juara nomor satu. Lalu, adik laki-lakiku the one and only yang super perfect, maskulin, dan cukup mudah menyendiri kala emosinya memuncak. Lalu si anak bungsu yang lebih banyak diam, berusaha menciptakan ruang tenangnya sendiri, dan mungkin belum paham bagaimana caranya berkomunikasi dua arah yang baik.
Itupun aku amati pada 4 keponakanku yang sama sekali belum dewasa, bahkan belum remaja.
Anak nomor satu, Fay, si sporty, energi full, dan aktif dalam motorik. Aku lihat, dia paling suka bergaul, dan paling senang ke sana kemari. Lalu anak kedua, bestie ku, Zafran. Karena aku lihat beberapa karakternya, mungkin aku banget. Berdarah dingin, jarang sekali nangis, tapi sekali menangis susah sekali berhentinya. Paling banyak memuji lewat lisan. Dan punya ketertarikan seni seperti warna, gambar, foto, video dan lainnya. Bahkan seringkali dia nyaman sendirian di rumah di saat yang lain ikut ayahnya pergi.
Lalu si anak ketiga yang masih sering hilang arah, karena masih bayi. Belum terlihat karakter yang menonjol, hanya beberapa kali sering bikin kesal abang-abangnya. Yaa, namanya juga bayi.
Anak nomor 4? Who knows. Bicaranya masih terbatas, berdiri pun masih oleng, hanya cerianya khas ekstrovert.
Aku melihat semua anak punya karakter berbeda. Beberapa kali aku lihat kakak dan kakak iparku kesulitan menidurkan semuanya, karena satu di antaranya masih aktif berlari-lari jam 11 malam. Satunya berhasil tidur siang, tapi satu di antaranya malah ketiduran setelah maghrib, lalu satunya lagi kebangun karena alarm tidak bisa diam yang baru bangun jam 9 karena tidur setelah maghrib.
Pusing lihatnya. Tapi rumahnya hidup. Tapi sibuk. Tapi bingung. Tapi kesal. Tapi sedih. Tapi kasihan. Tapi menyenangkan. Dan esok paginya, semua mulai dari nol, seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak ada pembahasan tentang malam lalu. Seperti hari baru tanpa kesal.
Oh, inikah yang disebut orang tua itu pemaaf?
Pelajaran Semingguku
Ramsha, anak ketiga kakakku ini layaknya toddler pada umumnya. Paling sering menangis dengan alasan yang tidak bisa dijelaskan. Bisa karena video yg ditontonnya tiba tiba menghilang, bangun tidur nggak ada ayah di sampingnya, suapan makanan yang terlalu kecil, disenggol mamasnya, atau sekedar pertanyaan yang nggak bisa dijawab karena bicaranya masih cadel semua huruf. Ini tuh kayak, "hmm, dulu adikku yg nomor 3 begini juga nggak ya?". Kadang aku membandingkan, apakah dulu aku punya kondisi yang sama mengesalkannya, atau hmm berbeda?
Saat pulang, aku membawa oleh-oleh spidol dan buku mewarnai yang kupikir bisa jadi media coret-coret anak kecil. Tapi ternyata, cuma satu yang tertarik, yaitu Zafran. Dia yang sesekali kalau bosan membuka bukunya dan mewarnai. Dan bahkan buku mewarnai itu hanya penuh diwarnai aku dan Zafran saja. Itulah sebab kukatakan, aku punya banyak karakter yang mirip dengannya, sesama anak kedua.
Pernah suatu waktu pada larut malam menjelang pukul 12 malam. Ramsha menangis nggak berhenti, lagi lagi tanpa alasan. Namanya anak-anak, cranky cause sleepy is normal than everything. Lalu, karena ayahnya yang sedang demam dan diarenya lelah, yaa sedikit membentak. Tapi ke semua. Karena yang belum tidur di larut malam itu, SEMUANYA. Beberapa saat kemudian, malah Zafran yang meledak. Aku yang saat itu di luar sedang menggendong Hanin, langsung semakin jauh keluar. Bukan karena apa, tapi karena aku ikutan menangis HAHAHA. Nggak tega gitu loh, karena Zafran ini jarang sekali menangis. Tapiii, yaa orang tua yang bentak sedikit karena jam tidur yang kelewata itu, aku mayan setuju sih.
Pernah juga satu waktu aku lihat anak pertama kakakku jauh lebih manja dari yang lain. Makan maunya disuapin, bahkan beberapa kali mandinya pun dimandikan. Tapi aku pernah ingat cerita kakakku, cara anak pertamanya menunjukkan cinta memang agak unik. Dia merengek kalau sedang manja. Nggak banyak bicara, hanya lewat sedih yang minta diperhatikan. Selebihnya, ia cukup dewasa. Walaupun agak sedikit menyebalkan karena masuk di fase aktif.
Sesekali aku bertanya, nanti aku akan jadi orang tua yang seperti apa?
Beberapa kali aku lihat kakakku membentak, sesekali menangis karena saking kesalnya. Tapi bukan sekali dua kali, mungkin dalam sehari dua kali. Kayaknya lelah ya, atau mungkin perasaan semangat. Sayangnya aku nggak pernah bertanya perasaannya.
Ketahuilah, saat isi rumah itu keos. Kakak dan kakak iparku saling memarahi, aku memilih tidur. Memilih untuk tidak tau dan menidurkan kesadaranku agar ikut campurku nggak membuat suasananya memburuk.
Mungkin sedikit banyak aku belajar. Anak nomor entah ke sekian, punya karakter beda. Faktornya mungkin bukan lingkungan, tekanan keluarganya, tapi mungkin juga seperti ilham yang dibawa sejak lahir.
Berteriak Histeris
Entah kapan, aku pernah baca buku parenting tentang anak. Di mana ada satu fenomena namanya Night Terror. Katanya, ini bisa terjadi ke siapapun anak anak yang transisi sadar ke tidurnya terlalu ekstrem. Dulu, nggak ada bayangan sama sekali.
Tapi di rumah kakakkua kemarin, aku merasakannya langsung.
Di hari ketiga menginap, sebelum lebaran, tiba tiba jam 2 malam Ramsha nengis sampai berteriak, bahkan badannya bangun dan berlari kebingungan. Aku sejenak kaget, "Ramsha kenapa mba?". Tapi kakakku menanggapi dengan sangat santai. Gara gara teriakannya, anak yang paling kecilnya bangun, ikut menangis.
Aku ikut kerepotan, tapi nggak tau sama sekali maksudnya. Ternyata pagi harinya aku baru tau kalo itulah Night Terror yang nyata. Saat sebelum tidur, Ramsha nggak mau diajak tidur, nggak sempat ke kamar mandi, nggak sempat digosok gosok punggungnya, dan akhirnya ketiduran karena menangis sebab hp yg lagi ditontonnya diambil paksa ayahnya.
Saat bangun pagi, "Oh" ku nggak berhenti. Aku bahkan melihat langsung pelajaran yang selama ini hanya aku baca. Aku melihat langsung bagaimana anak-anak bisa saja seperti orang linglung atau kita bilang 'mengigau' seperti sadar manusia pada umumnya.
Aku jadi merenung lagi, 'Oh pantas di asrama ada ritual sebelum tidur'. Ritualnya yaa dinulai dari dongeng sebelum tidur, baca quran bersama, cuci kaki, berwudhu, gosok gigi, dan tidur dengan nyaman. Mungkin kalau ini nggak ditindak lanjut, badan bisa kelelahan karena transisi dari sadar ke tidur terlalu ekstrem.
"Oh berarti, nangis sebelum tidur juga bahaya ya?"
Semoga aja engga, karena itu ritualku.
______________________
Mungkin postingan di instagramku hanya bercerita soal liburan dan tempat menarik yang kukunjungi. Tapi percayalah, setiap hariku belajar, menganalisis, mencoba memahami emosi, belajar karakter manusia, dan lebih romantis dari kelihatannya. Aku sadar betul bahwa manusia adalah media belajarku. Mungkin aku nggak bisa jadi manusia paling sempurna, tapi setidaknya kuusahakan hadirku sebagai penyempurna.
Ini pelajaran semingguku di rumah kakakku. Semoga aku bisa belajar lebih banyak di rumah-rumah lainnya.
Terimakasih Allah, Kau anugerahi aku akal dan hati yang luar biasa ini 🤍
Salam sayang,
Ossidduha
28426


Komentar
Posting Komentar