pasca kecelakaan
Mungkin aku bisa bilang, 'akhirnya aku bisa cerita'.
Tahun 2019 bulan Maret tanggal 4 di hari Senin pukul 21.00 WIB, kecelakaan di depan gang kubur itu nggak terhindarkan.
| foto 1: satu-satunya arsip percakapan temanku |
Kecelakaan
Tanggal 4 Maret 2019 itu hari pertama kuliahku semester 4. Karena hari pertama dengan 4 mata kuliah full dari jam 8 pagi, aku baru sampai di asrama pukul 19.30 WIB. Nggak pernah ada pikiran jelek ketika itu. Aku cuma pulang dari kampus seperti biasanya.
Sesampainya di asrama, tiba-tiba ibu dapur asrama atau sering kupanggil Budhe, mengajakku pergi malam itu. Sekitar pukul 20.00 WIB. Aku diajak untuk beli sate di Pondok Pinang, kebetulan karena aku salah satu pengurus yang biasa bawa motor juga. Jadi nggak heran kalau aku diajak sekaligus mengantar.
Masih kuingat sekali, aku belum berganti pakaian kuliah. Gamis baruku berwarna coklat dan jilbab bergo wolfis cream. Persis baju yang sama kuliah siangnya.
Seperti pada umumnya motoran malam-malam, aku cuma merasakan angin yang lebih kencang. Aku yang mengendarai, sementara Budhe membonceng di belakangku. Malam itu, kami pakai motor Vario biru milik Mas Agung, anak Budhe.
Sate dibeli, kami kembali.
Nggak ada aba-aba, dalam hitungan detik di depan gang kubur, saat hendak belok ke kanan masuk dalam gang, mendadak sinar mendekat
1,
2,
dan.
"Tangankuu, sakit, mana Budhe?"
Teriakku saat aku sadar sudah dalam gendongan papahku masuk ke dalam mobil.
Senyap.
Saat aku benar-benar sadar pertama kali, pukul 01.00 WIB di ruangan rumah sakit yang sepi. Seperti ruang VIP. Mamah dan satu temanku di sampingku.
Aku di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Cawang.
Cerita Orang
Pagi harinya, pukul 09.00 WIB aku sudah dibolehkan pulang, dijemput mobil sekolah dan diantar ke rumah orang tuaku.
Hal pertama yang aku cek adalah grup WA. Kabar Budhe setelah kecelakaan, izin kuliahku, kronologi kecelakaan malam tadi, dan semua kabar yang hilang dan nggak kusadari selama 24 jam terakhir harus kuketahui lebih dulu.
| foto 2: gamis coklat dan jilbab cream malam itu |
Aku menjawab pesannya satu persatu dari orang yang paling dekat sambil bertanya, meminta kronologi karena semua kejadiannya tidak ada yang aku ingat satu pun. Bahkan aku nggak bisa mengingat posisi saat jatuh, saat tertabrak, saat orang berteriak, saat badanku diangkat ke sana kemari, atau bahkan saat dokter memeriksaku dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain karena tidak alat yang bisa memeriksa. Ingatanku tentang kecelakaan itu benar-benar tidak ada. Bukan hilang. Tapi tidak ada.
Satu yang aku ingat hanya cahaya terang menghadap persis ke mataku. Sampai di situ saja.
Antara aku dan Budhe, pada malam itu hanya Budhe yang sadar. Kejadiannya persis di depan Gang Kubur (gang masuk asramaku). Saat itu hendak menyebrang, dan motor dari lawan arah melaju cepat menabrak kami dengan cepat tanpa aba-aba. Satu-satunya cerita yang bisa aku dengar dari kronologi hari itu adalah cerita Budhe, seharusnya.
Tapi pasca malam itu, kami diantar ke tempat berbeda. Katanya, badanku terlempat jauh sekitar 3 meter dari motor, kepalaku terbentur keras tiang listrik di depan gang dan membuat memar yang sangat besar di dahiku. Semua orang khawatir soal gegar otak atau hilang ingatan yang akhirnya aku dibawa ke beberapa rumah sakit, hingga muaranya di Pusat Otak Nasional Cawang. Sedang Budhe yang dalam kondisi sadar, merintih karena sakit kakinya. Ia meminta segera diantar ke tempat pengobatan alternatif karena Beliau merasa ada yang salah dengan tulang kakinya. Mungkin sendi, mungkin patah tulang.
Aku mendengar cerita dari Mamahku, Papahku, teman-teman asramaku, Mas Agung, dan Amu. Semua bercerita meski di antaranya tidak ada yang tahu sama sekali persis kejadiannya seperti apa. Karena butuh waktu 5 menit panggilan dari depan gang sampai semua orang di asrama berhamburan keluar gang dan membantu kami membereskan kecelakaan yang terjadi.
Ceritanya kabur. Tidak sepenuhnya ingat. Bahkan beberapa di antaranya seolah tidak pernah terjadi.
Recovery
Masa recovery jadi masa paling buruk dalam hidupku.
Aku kebingungan karena setelah seminggu beristirahat, ternyata badanku cepat kembali sehat. Qadarullahnya aku nggak gegar otak atau hilang ingatan seperti yang dikhawatirkan banyak orang. Tapi hari di mana aku kembali beraktivitas, aku melihat Budhe masih duduk dengan kaki berselonjor dibungkus perban seluruh kakinya. Masih lemas, bahkan tidak bisa digerakkan. Dengan wajah pemaklumannya, Beliau menyambutku penuh bahagia. Bertanya soal luka di wajah yang belum selesai, apakah kepalaku terasa sakit, atau ada bagian tubuhku yang sakit?
Aku menjawabnya dengan bercanda, kelingking kiriku mungkin dislokasi, tapi kubiarkan. Lagipula hanya sendinya yang tidak bisa ditekuk lagi, dan cacat di kelingkingku tidak mengganggu pekerjaanku sama sekali.
Tapi tau apa yang terjadi?
| foto 3: perban Budhe |
Ternyata pemulihan Budhe dengan upaya lilit perban dan pengobatan alternatif di tempat itu tidak membuahkan hasil hingga lebih dari 2 bulan. Kakinya masih tetap belum bisa bergerak. Indikasinya mungkin benar-benar patah.
Tapi Budhe menolak berobat ke rumah sakit, karena beliau takut sekali dokter. Takut saat diperiksa, akan memeriksa penyakit-penyakit lain yang selama ini mungkin Beliau tutupi. Bulan Juni 2019, akhirnya terpaksa dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan menyeluruh, karena kondisinya nggak kunjung membaik. Dan baru terlihat, ternyata tulang pahanya patah dan menjauh. Kemungkinannya karena penanganan yang salah, dan tidak terdeteksi sejak awal.
Mau tidak mau, operasi dan pasang Pen.
Kenapa masa recovery ini jadi masa terburuk? Karena aku jadi lebih merasa bersalah. Karena waktu berbulan-bulan yang sudah aku lakukan untuk beraktivitas normal pasca kecelakaan, tidak bisa dilalui Budhe. Tiap harinya aku lihat, tidak bisa berjalan, hanya duduk di kursi depan rumah, sambil turut mengerjakan tugasnya menginstruksi agar seluruh masakan di dapur tetap terhidang nikmat dan tepat waktu.
Kadang ketika aku berangkat ke kampus, sambil berpikir dan menetralisir rasa bersalah. Padahal aku tau nggak ada yang menuduhku salah, tapi kondisi sehatku saat itu seolah aku harus merasa bersalah.
Itu asumsiku.
Lalu, hari ini?
Hari ini kondisiku baik. Cacat jari kelingkingku masih kelihatan sampai sekarang. Hanya setelah hampir 7 tahun berlalu, kepalaku jadi lebih mudah migrain kanan, terutama pada suhu dingin. Makanya aku jadi cinta cuaca yang cerah, panas, berawan dan berlangit biru. Karena badanku jauh lebih rileks dan nyaman tanpa migrain kanan. Oh, mungkin aku sedikit takut naik motor di Jakarta, karena trauma orang jauh lebih besar dari traumaku. Aku tetap naik motor di beberapa kondisi, karena traumaku bukan naik motor. Hanya sedikit lebih berhati-hati pada semua hal.
Tapi Budhe. Usianya semakin menua. Kesehatannya semakin menurun. Pasca kecelakaan, tahun 2020 masuk rumah sakit lagi karena Covid-19, lalu selanjutn kembali masuk rumah sakit karena diabetesnya, lalu akhir desember tahun 2025 lalu masuk rumah sakit lagi karena indikasi ginjal yang rusak dan akhirnya kini rutin cuci darah. Rumah sakit harus jadi sahabat Budhe mau nggak mau.
___
Seringkali aku meyakinkan kalau kondisi kesehatan Budhe tidak turut andil atas apa yang terjadi pasca kecelakaan. Tapi aku tetap masih bertanya, 'kalau dulu tidak kecelakaan, apa mungkin kondisi sekarang bisa jauh lebih sehat?'
Nggak ada yang menuduhku bersalah, tapi aku merasa perlu untuk punya rasa bersalah. Kalau mungkin aku menghormati tidak naik motor lagi, bukan karena traumaku, tapi karena trauma merasa bersalah dan dipersalahkan oleh aku sendiri. Kadang yang jahat ya diriku sendiri. Memaksa seolah aku harus lebih sakit daripada orang lain. Aku harus lebih berjuang dari orang lain. Atau mungkin aku harus mati lebih dulu dari yang lain.
Bulan Februari 2026, aku mengajar les anak tetangga asrama, yang ternyata bercerita dengan nostalgianya kalau keluarganya pernah menyelamatkan orang kecelakaan di depan Gang Kubur saat sedang berjualan di pinggir jalan. Waktunya sama persis dengan waktu kecelakaanku. Dan ternyata di cerita itu, yang diselamatkan dan membuat kepanikan malam itu adalah aku.
Cuma cerita nostalgia buat orang lain, tapi refleksi buat aku.
Kalau saja hari itu aku lebih berhati-hati, mungkin nggak akan ada pasca kecelakaan kepada budhe, kepada trauma orang tentang kemampuanku naik motor, kepada kekhawatiran tentang kepercayaan tugas.
Memang bukan salahku.
Tapi rasa bersalah ini ada, karena pasca kecelakaan.
| foto 4: kelingking cacatku |
Ossidduha
9426
.png)

Komentar
Posting Komentar