Jatuh cinta tidak ada dalam agenda
Halo guys,
Setelah beberapa bulan sepertinya
ya tidak update life, because my life was sooooo busy. Hari ini
persisnya sehari sebelum besok masuk sekolah, aku menepi ke Bliss Coffee.
Memesan Pandan Ice Coffee dan Croissant Plain untuk sedikit
merefleksi hidupku yang agak susah diatur ini. Karena mulai Senin kehidupan
monotonku akan berulang, jadi mari kita pikirkan hidup yang monoton ini agar
bisa lebih menarik.
Magang, Keputusan Paling Gila
Akhirnya aku cerita soal ini.
Jadi, persisnya di awal Mei aku
dikabari sahabatku waktu kuliah di Esa Unggul yaitu Iren, tentang program
magang di kantornya sekarang yaitu Owrite Media. Dia bilang, kantornya butuh
pemagang untuk nulis tentang lifestyle, evergreen, atau something
happen yang hype lah. Dengan pedenya, aku memang cukup tertarik dan
mau. Nggak pikir panjang, dalam waktu dua hari CV usang yang sudah lama sekali
nggak aku perbaiki itu jadi. Aku kirim CV dan beberapa portofolio tulisan agar
aku dilirik.
![]() |
| foto: (dari kiri) waktu mau interview - kantor Owrite - Chat HRD - CV aku |
Kenapa keputusan paling gila?
Karena, kondisi pekerjaanku di sekolah
tuh udah yang padat banget, Senin sampai Minggu lho, nggak ada jeda. Lalu
kuliahku Senin sampai Kamis yang juga nggak kalah menyita waktu udah bikin
lumayan burnout, tapi dengan lantang, tegas, dan pedenya, aku masih
ingin dilirik Owrite. Gila kan gue?
Tanpa banyak basa-basi, Owrite
terima CV-ku dengan cepat dan undang aku untuk interview. Yang mengejutkan ya,
aku jujur nggak menyangka kalau Owrite itu base kantornya offline dan resmi
pers. Kupikir tadinya cuma semacam media online tanpa kantor resmi gitu. Aku
kaget pas undangan interview ternyata langsung di kantornya (maksudnya kupikir
akan online meeting gitu).
Pokoknya secepat kilat gue
interview, sampai akhirnya gue diterima dan TTD kontrak di tanggal 15 Mei 2026,
di mana kontrak gue berakhir dalam waktu 4 bulan ke depan sampai September. Dan
gue baru tahu juga ternyata itu paid program. Yaa lumayan ya sebulan bisa
sejuta untuk nambah gue jajan. BHAHAHA. Alhamdulillah per hari ini, gue udah
magang hampir dua bulan dengan jumlah tulisan yang udah gue produksi sekitar
200 artikel. Gokil banget guaa.
![]() |
| foto: per 18 Juli 2026, jumlah artikel yang udah gue tulis |
Oya, btw gue tuh tipe yang suka dengan target walau keteteran. Jadi di program magang kali ini, gue punya target minimal nulis tuh 5 artikel. Lebih dari itu bagus, tapi kalau enggak ya nggak masalah. Dan alhamdulillah beberapa kali gue nulis cuma bisa 4, tapi sometime gue bisa nulis more than 5. Applause to me.
Lalu di tanggal 29–30 Juni
kemarin kan gue memang ada agenda pergi ke Tidung sama temen-temen gue. Gue
izin ke redaktur gue kalau minta nggak nulis yaa, atau izin deh ya namanya.
Tapi baik dan jujurnya Pak Amin (redaktur), beliau malah kasih usulan ke gue
untuk nabung nulis aja. Jadi itungannya gue nggak libur, dan gue tetap dapat
hak bayaran gue di dua hari tersebut padahal secara fisik gue liburan, dan tulisan
yang terbit hari itu adalah hasil tabungan seminggu sebelumnya. Ya Allah, jujur
gue ngerasa beruntung banget. Tapi first thing first, komunikasi adalah
kunci.
![]() |
| foto: ceritanya agenda kantor (tim Owrite) |
Terima kasih Pak Amin dan Owrite.
Jatuh Cinta Tidak Ada dalam
Agenda
Ini tuh agenda terabsurd yang
datangnya sering di momen yang nggak tahu waktu. Gue emang kadang butuh
diperhatikan, jatuh cinta, atau sekadar excited sama seseorang biar lebih
semangat menjalani aktivitas. Tapi kayaknya, semakin gue jalani, perasaan
berdebar saat jatuh cinta tuh lebih banyak ke arah distraksi yang tidak
produktif.
Gue jadi ngerasa lebih free,
padahal kerjaan gue banyak. Bahkan seringnya gue jadi ngerasa aman dan butuh space
buat ngobrol, padahal gue lagi hectic.
Dan dari sekian keputusan gue,
mungkin fokus sama satu orang yang belum betul-betul mau atau mengharapkan gue in
silent tuh bikin capek. Tiap hari gue kayak harus siap-siap ditinggalin.
Apalagi dengan pribadi gue yang kayak orang mau nggak mau ini, kayaknya orang
jadi sering bingung juga. Tentu dalam waktu dekat, gue akan menjauh dulu untuk
target menikah, jadi kalau mau serius juga gue belum ada target.
Dan sedihnya, saat kemarin
ngobrol sama temen-temen gue, gue bilang bahwa tabungan yang fokus untuk
pernikahan tuh nggak ada. Kosong. Karena gue juga masih nanggung kebutuhan banyak
hal.
Kalau mau berhitung, mungkin
harusnya gue bisa menabung lebih dari 30 jutaan sampai hari ini. Tapi naasnya
saat ini nggak gue pegang, dan gue bahkan nggak berharap uang itu buat balik.
Jadi gue bilang sama temen-temen gue,
"Gue kalau diajak nikah, kayaknya
bakal bilang kalau gue nggak punya duit nikah deh, jadi kalau lo mau nikahin
gue siap biayain nggak? Kalau enggak yaudah gapapa nggak usah. Gue juga nggak
begitu pengen nikah. Kalau nggak nikah juga gapapa. Tapi kalau ditanya gue mau
nikah nggak, ya mau. Tapi kalau nanti ya gapapa. Pokoknya gue nggak buru-buru,
kalau lo buru-buru ya gapapa cari yang bisa bayar barengan, tapi bukan
gue."
Ini bukan kalimat orang sombong
ya, tapi kalimat orang nggak punya duit. Bhaapppp. Gue bisa merawat dan
menjaga diri gue sekarang dan hari ini, tapi kalau keluarin duit gede untuk
satu waktu kayaknya gue belum siap. Jadi bukan nggak mau diajak nikah, tapi
nggak ada duit buat diajak nikahnya aja. Maap.
Karena gue mau jatuh cinta tanpa
berpikir berapa uang yang harus gue keluarkan. Gue mau semua hal itu
dibicarakan dan dilakukan dengan penuh cinta berdua. Kalau gue masih stres
mikirin duit dari mana, gimana cara gue mikirin elu kan. Soalnya gue mau jatuh
cinta yang maksimal. Gue mau cinta yang penuh. Jadi gue nggak mau persoalan
tentang uang ini jadi penghalang atas rasa cinta maksimal yang ingin gue tuang
ke gelas lu.
Love u to the moon and back, jodohku.
Walaupun dalam waktu dekat ini, gue naksir orang. Gue ngerasa cukup bisa berbagi dan mau dibagi sedikit cerita-cerita baru. Tapi itu tuh kayak hal yang nggak begitu berbunga-bunga. Gue memang ngerasa jadi ada teman berbagi dan sedikit berperilaku feminim, tapi gue sangat berhati-hati untuk bertanya apa gue cukup pantas untuk dapat perhatian yang lebih itu.
Terlebih, orientasi gue suka sama orang udah bukan lagi penasaran. Karena gue mau cinta yang utuh, gue mau berbagi seluruh hidup dan diandalkan pada tiap-tiap urusannya. Kadang gue kepikiran, salah nggak ya ambil jalan kayak gini.
Kadang gue ngerasa nggak pantas, tapi kadang gue juga ragu soal keyakinan dia. Seolah seperti orang yang nggak mau tau, tapi suka. Walaupun gue udah dapat kesimpulan tentang sikap mendekatinya yang punya maksud, tapi gue masih denial seolah gue bisa menyelesaikannya tanpa campur tanpa perasaan yang datangnya dari hati.
Gue naksir duluan.
Gue suka duluan juga.
That why gue nggak nolak waktu dia datang. Walaupun tiba-tiba.
Cuma gue nggak kepikiran kesimpulannya akan datang lebih cepat. Makanya gue masih mencerna maksudnya. Masih memikirkan bentuk simpulnya. Dan masih mencerna apa gue siap untuk fase hidup baru yaitu hadir menjadi bagian hidup manusia lain untuk saling mengandalkan. Gue bertanya-tanya. Kadang yakin, tapi banyak ragunya.
Makasih udah kasih kesimpulan yang cepat.
Pulau Tidung, I'm in Love
Oke, terakhir Tidung. Untuk
pertama kalinya gue short trip bareng teman inti gue. Tentu Husna, Asma,
dan Peni tuh udah kayak keluarga gue. Mereka mungkin lebih paham rincian
masalah dan keberhasilan gue selama hidup. Gue seasrama sama mereka berempat
sejak umur 13 tahun, jadi semua hal yang terjadi dalam hidup gue sampai hari
ini jelas mereka tahu persis. Dan sejak menjadi dewasa ini, baru pertama kali
bisa liburan yang memang LIBUR. Karena biasanya kita selalu punya tugas setelah
liburan, atau tugas jagain adik kelas, atau sekadar koordinasi dan laporan
dokumentasi. Nah kalau ini enggak. Jadi yaa lebih nyaman aja.
![]() |
| foto: snorkeling di Pulau Tidung |
Gue juga dapet hadiah dari temen
gue kain tenun ungu, how cute, maybe mau gue bikin rok biar bisa dipakai
sehari-hari. Tengkyuu.
And Of Course, KULIAH
![]() |
| foto: sepenggal tugas kuliah |
Ini udah last semester, gue
bersyukur banget bisa survive kuliah di tengah agenda harian yang carut-marut.
Gue seneng punya banyak temen kuliah yang baik, perhatian, dukung, dan
mengandalkan gue untuk beberapa tugas. Karena gue sadar banget, gue harus hidup
untuk diandalkan agar bisa tetap hidup. Jadi instead stres karena
dimintain bantuan, gue justru jauh lebih hidup dan merasa berguna karena
dimintain bantuan.
Tengkyu guys.
Gue bersyukur banget dikasih
Allah badan yang nggak mudah sakit. Tapi tentu gue lebih bersyukur karena
dikasih otak biar bisa nyetop hal yang bikin gue stres berkepanjangan, sakit,
dan lainnya. Sejauh ini nalar gue masih oke untuk ngasih waktu badan gue
istirahat, even kapan gue harus berhenti minum es, kapan gue harus makan buah,
atau kapan gue harus merawat badan gue sendiri. Jadi kenapa gue jarang sakit,
bukan karena gue menahan diri biar nggak sakit, tapi karena gue merawat diri
gue dengan baik.
Terima kasih juga Allah masih
hadirkan aku cinta yang tulus untuk beribadah, walau beberapa di antaranya gue
masih ngaret, atau malas-malasan. Semoga dengan journaling seperti ini, gue
jadi bisa lebih melibatkan Allah dalam keseharian gue.
Terima kasih, Allah.







Komentar
Posting Komentar