loosing the spark

foto: satu-satunya kelas yang aku bisa berekspresi bebas (mereka bahkan tau aku sering tidur dulu sebelum mulai kelas sampe mendengkur haha)

Halo, ini pertama kalinya lagi aku nulis bebas untuk blog ku sebanyak dua kali dalam sebulan.

Hari ini, aku mau cerita soal kenapa sih aku masih melanjutkan kuliah S1 ku yang sebenernya sudah nggak ada tujuan apapun selain senang-senang aja. Siapa tau ada di antara kalian yang juga sama kayak aku, sedang menjalani sesuatu yang sudah tidak ada tujuannya, tapi seperti harus dan ingin tetap dijalani. Nah bisa liat dari gimana sudut pandangku soal kuliahku ini.

Kenapa sudah tidak ada ‘spark’ lagi?

foto: my forever favorite matkul semantik 'Pak Chadis'

Loosing the spark kalo kata anak-anak jaman sekarang ya.

Spark ku untuk kuliah S1 lagi sebenernya adalah waktu bulan November tahun 2024, kepala sekolah dan ketua Yayasanku tuh tau ada kesempatan PPG, tapi khusus bagi guru yang jurusan kuliahnya linier dengan mapel ngajarnya. Nah tentu, aku bukan salah satunya. Aku lulus dari jurusan jurnalistik ilmu komunikasi, dan mapelku Bahasa Indonesia. Itulah sebab kenapa sekolah tu ‘ngojog-ngojog’ banget supaya aku S1 lagi.

Setelah pertimbangan yang panjang, di tanggal 29 Desember 2024, aku memutuskan untuk kuliah S1 lagi di Unindra jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dengan harapan bisa ikut PPG setelah lulus dengan jurusan yang linier.

Then, aku nggak tau harus bilang alhamdulillah atau ya Allah ya Allah.

Bulan Maret resmi jadi mahasiswa Unindra dan menjalani kuliah S1 ulangku itu, bulan Mei nya ada pengumuman dari pemerintah kalau peserta PPG itu boleh tidak linier dengan jurusan kuliahnya. BHAAAAAAPPPPPPPP.

Ya Allah, ya Allaaaah.

Jujurrrr, di bulan Juni 2025 setelah pendaftaran PPG gue diterima dan Juli sudah mulai menjadi mahasiswa PPG, kemudian di bulan Oktober gue dinyatakan lulus, lalu bulan November wisuda kelulusan online, dan Januari 2026 ijazah PPG udah aku terima. Jujurrrrr, I’m loosing the spark kuliah S1 ku di Unindra.

Ya bayangin aja. Kuliah ini aku bayar sendiri, nyita waktu malamku dari senin sampe kamis, harus bolak-balik ke Jaksel Jaktim di malam menuju tengah malam (SENDIRIAAAAN), dan jadi punya tugas seperti anak S1 lagi. Tapi lulusmu nggak akan seberguna dan seindah saat kamu membayangkan akan lulus PPG, karena officially kamu sudah lulus PPG. Loosing the spark kan?

Mengubah sudut pandangku

foto: kelas terhangat di kuliahku sekarang

Setelah tujuan utamaku nggak ada, sebenarnya ada terbesit niat untuk memberhentikan S1 Unindra ku ini. Aku sempat ada di fase, apakah nggak aku lanjutkan lagi ya. Sampai beberapa kali aku bilang ke temen-temenku kalau aku udah nggak sesemangat awal kuliah. Bahkan di banyak diskusi, entah dengan siapa saja, sering aku sampaikan kalau aku ingin berhenti aja. Karena aku ingin cari tujuan baru, mungkin aku bisa mulai cari beasiswa S2 atau uang kuliahku ini akan aku jadikan daftar S2 dan lainnya.

Tapi lagi-lagi, aku belajar soal sudut pandang.

Aku pernah kuliah di Esa Unggul, punya teman juga, punya cerita juga, tapi baru kusadari ternyata ceritanya nggak sebermakna saat aku kuliah sekarang. Aku tuh punya banyak nilai dari cerita-ceritaku di Unindra. Aku ngerasa sikap sosialku lebih banyak tumbuh saat aku mulai kuliah lagi. Aku banyak melihat sudut pandang baru sejak aku kuliah lagi.

Why?

Karena kuliahku bukan kuliah reguler, tipe orang yang aku temui tuh lebih fokus ke arah profesi daripada kuliahnya. Jadi justru aku punya banyak nilai baru dari cerita teman-temanku soal pekerjaan. Yang cerita ini nggak akan pernah aku dapati kalau aku nggak kuliah di Unindra di kelas sore.

foto: anak-anak maba favorit aku

Aku tau ada mahasiswa yang selalu telat karena tempat kerjanya di Bekasi dan pulangnya selalu persis jam masuk kuliah. Ada juga mereka yang struggle kuliah di usia-usia dewasa seperti aku karena kebutuhan pekerjaannya. Ada yang tidak terlalu pintar, tapi ingin belajar. Ada yang kuliah karena ingin upgrade diri. Ada yang pekerjaannya guru pramuka, guru ekskul, operator sekolah, ojol, dagang di pasar, admin jualan online, admin ritel, barista, peronce, media sosial spesialis, guru TK, guru PAUD, sales mobil, bantuin ibunya jualan sayur, aktor, sopir, OB, guru shadow, admin RS, admin gudang, make up artist, owner bisnis online, dan lain sebagainya yang bahkan nama pekerjaannya tuh baru aku dengar.

Kayak wow, aku belajar pekerjaan baru kah?

Dan jujur aaja, sejak kuliah lagi, aku benar-benar menghargai segala bentuk profesi. Aku jadi ngerasa kalau semua orang tuh bertahan dengan caranya masing-masing. Karena kenalan dengan berbagai pekerjaan tuh baru aku temui di sini. Soalnya waktu aku di Esa Unggul mungkin temanku nggak sebanyak sekarang, dan juga rata-rata mereka punya previllege dari ortunya lah, rekannya, atau lingkup mereka. Yaa tentu karena kuliah di Esa Unggul aja udah bentuk previllege dong. Karena kampusnya cukup mahal, kalaupun beasiswa berarti mereka juga udah dapet lingkungan cukup baik.

Jadi setelah aku pertimbangkan dengan baik, aku memutuskan untuk nggak memberhentikan kuliahku. Karena sepertinya aku semakin butuh circle luas soal bagaimana cara pandangku agar lebih merata. Aku ngerasa jadi lebih punya empati sama semua bentuk pekerjaan dan tentunya bentuk sikap orang.

Menjadikan pertahanan sebagai prinsip

foto: kesempatan belajar baru yang salah satunya karena kuliah lagi

Uniknya, setelah kabar bahwa PPG ku udah lulus, banyak orang jadi nanya “kuliah S1 ulangmu itu masih dilanjutin kah?”. Sebelum aku berprinsip secara khusus tentang pertahananku di kuliah baruku ini, pertanyaan kayak gini tuh bisa bikin galau sejuta waktu. Aku bisa tiba-tiba nangis apa keputusanku benar atau salah, kepikiran juga apa sebenernya aku cape, atau kepikiran apakah keputusan tetap lanjutin S1 ulangku ini benar?

Aku juga sangat pemikir guys, jadi setangguh semandiri dan sepercaya diri seorang Ossid ini punya banyak waktu untuk mikir dan nangis SENDIRIAN.

Waktu ada pertanyaan itu, awalnya gamang kayak jawabnya tuh bingung. Tapi kalau sekarang ditanya, aku sudah punya alasan tepat untuk jawabannya.

1.      Aku ternyata enjoy dan senang sekali kuliah lagi.

2.      Sepertinya aku juga butuh tempat menuangkan isi kepala yang banyak ini ke sebuah Lembaga resmi, ya kuliah itu udah pilihan terbaik.

3.      Aku suka sekali adik-adik di Unindra yang sering tanya, minta bantuan tugas, dan dengerin semua keluh kesah mereka soal tugas ataupun bukan.

4.      Setelah aku pikirkan lagi, bayar kuliah adalah pengeluaran paling bermanfaat sepanjang hidupku.

5.      Sepertinya aku ingin melanjutkan S2 di bidang linguistik atau Bahasa, sehingga batu loncatan S1 ulang ini adalah pilihan terbaik.

Aku udah nggak lagi takut sama pertanyaan kayak di atas. Aku bisa jelasin dengan baik alasanku tetap melanjutkan kuliahku di Unindra. Lagipula, aku belum bersuami, belum punya anak, dan memang nggak ada kesibukan khusus rumah tangga yang lebih prioritas daripada kuliah saat ini.

Aku butuh meluruskan tujuannya

foto: kelas dan dosen terunik sepanjang hidupku 'Pak Syarif'

Setelah waktu yang panjang, ternyata kehilangan tujuan itu benar-benar bikin bingung. Aku kebingungan menjalankan aktivitasnya. Aku ngerasa udah nggak punya tantangan lagi. Dan ngerasa kalau yang terjadi dalam hari-hari tu seolah biasa saja. Nggak ada yang spesial dalam hidup.

Jadi, yang harus aku lakukan adalah meluruskan tujuanku.

Mungkin memang bukan PPG lagi tujuannya.

Mungkin cinta soal belajar.

Mungkin cinta tentang situasinya.

Mungkin cinta manusianya.

Mungkin cinta lingkupnya.

Aku butuh space agar menyalahkan diriku soal keputusan besar ini nggak jadi soal besar. Dan sepertinya duniaku juga kasih aku waktu yang cukup banyak untuk berpikir dengan santai, sehingga sejauh di mana aku merasa buru-buru, waktu nggak pernah memburu aku.

Dengan sekarang aku kuliah lagi, justru keinginanku untuk melanjutkan S2 jadi lebih besar. Aku jadi lebih percaya diri soal pendapatku. Aku lebih paham bagaimana melihat karakter manusia. Aku jadi lebih berhati-hati menilai sikap orang. Dan tentunya aku jadi lebih berharga pada tiap pertemuan yang hadir.

Tentunya dengan belajar di luar mata kuliah ini, aku jadi lebih siap menjalani hal baru. Mungkin apa yang aku lihat, aku juga jadi lebih siap menghadapi dunia. Aku juga jadi nggak menyepelekan orang orang.

Kalau diibaratkan sebuah lagu, suasana hatiku sekarang seperti lagu Nala dari Tulus. Tenang meski masih bingung. Tapi demi tuhan aku berusaha. Aku juga ingin menceritakan seberapa berharganya waktuku setiap hari. Kepada orang yang akan kubagikan seluruh hidupku, kepada anak ku nanti, kepada murid-muridku dan kepada siapapun yang mau dengar ceritaku.

Ya Allah, terimakasih ya sudah diberikan kesempatan yang luar biasa ini.

Kalau hari ini tabunganku tidak berbentuk uang, semoga akal dan pikiran yang sehat ini bisa aku jadikan tabungan untuk membekali hidupku di kemudian hari.

Terimakasih Allah.

Komentar

Postingan Populer