Aku Turun Kelas

 

aku turun kelas bersama mereka

Hai, seperti biasa dan belum berubah, aku Ossid.

Nothing special, hari ini aku cuma mau berbagi tentang aktivitas merenungku sebagai guru. Mungkin terlihat biasa, tapi ada waktu dalam sehari, aku bisa saja sangat sedih karena memikirkannya terlalu dalam.

Perempuan gembeng ini sering sekali menangis tanpa alasan. Tapi kali ini, biar kuberi tau salah satu alasannya.

Aku Turun Kelas

kelas yang membersamaiku sejak 2023 sampai lulus SMP

Tahun 2023, aku dipercaya pegang satu kelas Bahasa Indonesia di SMP yaitu kelas 7. Aku ketemu sama anak binaan Ayu (walasnya). Senang sekali rasanya ketika dapat kelas 7, karena aku merasa punya power atas kesempatan mereka belajar Bahasa Indonesia. Aku ngerasa bahwa sebagian ilmu yang mereka bawa saat dewasa adalah karena pengalamannya sekelas denganku.

Ternyata, kelas ini terus berlanjut. Sejak 2023, aku selalu ikut mereka naik kelas. Fatim, Sari Ayu, Ryeska, Adzra dan semuanya. Kelas 7, 8 dan 9 aku pegang semua. Sampai akhirnya di tahun ini mereka lulus SMP dan akan ketemu aku selama 3 tahun ke depan di SMA.

Aku kira perjalanan ngajarku di SMP akan putus gitu aja karena anak binaanku sudah lulus. Tapi saat pengumuman rapat kerja Yayasan dan sekolah, aku masih diberi kesempatan untuk pegang satu kelas lagi di SMP. Berbeda dari sebelumnya, aku nggak pegang kelas 7 atau melanjutkan kelas 9. Tapi aku pegang kelas 8.

Secara struktur kelas, berarti aku turun kelas.

Ini adalah kelas baru.

Aku belum pernah kenal, nggak tau karakteristiknya, nggak paham cara belajarnya, dan belum tau seberapa paham pengetahuan soal bahasanya.

Jadi tahun ini, adalah tahunku meraba kemampuan untuk anak baru binaanku.

Welcome…

Selamat datang di dunia baru, mengulang dari awal, dan menilai karakter baru manusia.

Sejak tiga tahun belakang, mungkin ini jadi tahun yang cukup menantang. Karena bertemu karakter baru manusia, berarti aku butuh belajar lebih banyak. Aku butuh maklum yang besar. Dan aku butuh lapang yang luas sekali.

Aku bukan orang yang sabaran. Sekali dua kali, entah beberapa kali seringnya aku terburu-buru. Ingin mudah dimengerti, padahal kami belum mengenal. Maka itu, saat pertama kali diumumkan kalau aku turun kelas, adalah ‘apakah aku siap berhadapan dengan manusia baru?’.

Tapi karena aku sudah begitu siap, maka aku menerimanya dengan senang hati.

Syafa yang sering asbun di kelas.

Keisya yang seringnya masih belum paham.

Najah yang banyak bertanya.

Falihah yang semangatnya membara.

Kanaya yang sering kebingungan.

Syareefa yang seringnya sedikit abai dengan caraku mengajar.

Atau Dzakiya yang selalu unik setiap jam pelajaran.

Aku belajar banyak sekali dari mereka. Apalagi badannya yang masih kecil, tanyanya yang masih receh, dan pemakluman yang mungkin kalau bukan aku yang sekarang, takkan masuk kotak toleransiku.

Meski ucapan selamat datang di hari pertamanya membuatku kurang semangat, tapi ternyata hari pertama nggak selalu jadi representasi atas lika liku sehari-hari. Mungkin sambutannya kurang nikmat, tapi senyum yang terlontar sehari-hari jauh lebih nikmat.

Memang agak ribet ketika harus mencari tau asal usul kenapa anak ini kurang semangat belajar, pelajaran mana yang dia suka, mungkin aku atau Bahasa Indonesia yang tidak dia sukai, dan banyak sekali tanya yang harus aku perjelas sendiri maknanya. Repot memang, tapi senang.

selamat yaa udah lulus SMP

Terimakasih ya Allah, sudah kasih aku kesempatan untuk belajar dari karakter manusia. Terimakasih sudah diberi kesempatan bertemu dan diterima di kotak karakter baru. Semoga media belajar ini bisa aku dapat setiap waktu, sehingga siapapun yang akan datang kepadaku, baik buruknya menjadi anugerah buat aku.

Terimakasih Allah.

 

23826

@ossidduha

 

Komentar

Postingan Populer