isi kepalaku berisik

 


Hai

Aku kembali lagi.

Tentu kalau aku mulai aktif kembali, berarti ada hal penting yang harus aku abadikan.

Entah soal gundah, senang, atau apa.

Kadang aku sendiri belum punya kesimpulannya.

Makanya aku menulis.

Nggak Mau Bilang Aja

Hari Jumat 15 Agustus lalu, aku pulang kampung. Karena perjalanan sekitar 10 jam, sudah aku estimasikan akan sampai di Cilacap pagi hari. Jadi aku bisa lebih cepat datang ke acara lamaran sepupuku. Bukan suatu yang istimewa, tapi aku ingin hadir.

Mungkin kalau aku nggak hadir pun, nggak akan ada perubahan apapun. Lamaran akan tetap berjalan. Dan kehadiranku nggak jadi syarat mulai atau berhentinya acara. Tapi, aku ingin hadir saja.

Sore itu, aku pergi hanya berpamitan dengan kepala sekolah, karena aku piker pergi sehariku itu hanya akan memakai jatah izin sehariku saja. Tapi masalah datang tak terduga. Di hari Sabtu, di mana hari itu aku izin, sebuah kasus dari anak-anak terjadi begitu saja. Bukan salahku, tapi mungkin ‘harusnya’ aku ada di situ.

pulang kampungku karena hadir ke acara lamaran sepupu sekaligus sahabatku

Karena kasus ini, orang yang tidak aku kabari kalau aku pulang kampung jadi tau. Satu orang mungkin hanya meng-‘oh’-kan saja, tapi orang lain ‘kok tidak berkabar?’.

Aku memang nggak mengabari siapapun. Lagipula, izin sehari itu bukan hal janggal. Beberapa di antara kami sering izin sehari karena pelatihan, acara keluarga, sakit, acara pribadi, atau keperluan lainnya. Apakah karena pergiku ke luar kota? Padahal poin izin itu ada di harinya kan. Mungkin kalau sempat, bisa dan mampu aku umroh sehari ke Arab pada sabtu pagi dan hari Senin sudah kembali bekerja, bukan sebuah masalah kan?

Itu asumsiku.

Pagi saat aku sudah duduk di bus untuk kembali ke Jakarta, pesan masuk bernada tinggi itu muncul. Menuduh sombongku karena tidak berkabar. Pagi itu jujur aku kalut. Dari nada pesan yang tersampaikan, sedih, bingung, dan pertanyaan alasan apa yang harus aku berikan karena aku tidak berkabar. Tidak ada. Hanya karna aku nggak mau bilang aja.

Aku hanya merasa tidak perlu mengabarkan. Adapun kasus yang terjadi pada hari itu, bahkan jika hari itu aku sakit dan tidak bisa beranjak dari kasur pun akan tetap terjadi kan. Aku hanya pion yang diminta merendahkan suara, menertibkan lagu yang tidak seirama, dan menenangkan riuh yang entah dibuat oleh siapa. Tapi bukan salahku.

Jadi, aku nggak mau bilang aja.

Bukan karena sombongku. Lagipula apa yang perlu disombongkan dari pergi kurang dari 24 jam berbekal baju kerja belum mandi dan air putih yang dibeli di rest area? Nggak ada.

Aku bahkan nggak ngerti di mana konsep sombongku yang dijadikan bahan tuduhan. Aku kebingungan karena nggak ada yang harus aku sombongkan. Aku hanya nggak bisa hadir pada hari Sabtu kemarin. Apa sebab jabatanku sebagai Wakil Kepala Sekolah? Sebab itu kah? Apakah seorang Wakil Kepala Sekolah tidak boleh izin satu hari dan menikmati waktu izinnya tanpa gangguan. Seumur hidup aku bekerja, belum pernah satu kalipun aku layangkan cuti. Aku bahkan bingung, apa kegiatanku selain bekerja. Apakah satu hariku yang tidak hadir kemarin itu menjadi kesimpulan atas sombongku yang bahkan aku bingung datangnya dari mana.

Jadi karena apa? Salahku kah?

Aku nggak mau bilang aja. Nggak ada alasan lain.

Ini Bukan Pertama Kali

Sebab pesan yang menuduh sombongku bermain peran, aku jadi mempertanyakan kelayakanku.

Sepanjang perjalanan dari Cilacap ke Jakarta 10 jam di bus yang hampir tidak ada orang selain aku, mataku sibuk berair. Mulutku sibuk merapat karena menahan suara isak yang hampir keluar tanpa aba-aba. Aku mempertanyakan kelayakanku sebagai manusia. Bertanya salahku di mana. Dan sedikit berpikir, apakah perlu aku kembali lagi ke Jakarta?

Terlihat sepele dan membingungkan.

Tapi pikiranku di kala sendiri di atas bus itu sangat kalut. Aku bahkan kebingungan bolak balik saat berhenti di rest area Prupuk. Apakah perlu aku lanjutkan perjalanan, atau aku kembali atau pergi entah kemana. Lagipula aku orang dewasa.

Ini bukan pertama kali.

Setelah satu jam tanpa berhenti dari sibuk kalutku, aku memilih tidur. Mematikan semua akses komunikasi dan tidur di antara kursi kosong kanan kiriku.

Ini bukan pertama kali.

Lagi-lagi aku menenangkan diriku sendiri.

Aku nggak tau harus bilang dan mengeluh kepada siapa. Aku cukup marah-marah di grup teman yang isinya tidak lebih dari empat orang. Tapi aku memilih merapatkan kalutku dari mamahku, adikku, kakakku, dan semua orang yang kurasa tidak perlu. Bahkan aku merasa nggak perlu memberikan klarifikasi atas tuduhan sombong yang entah sebabnya apa. Aku berpasrah diri seolah salah.

Mungkin karena aku nggak tau solusi paling menangkan selain mengaku seolah salah.

Ini bukan pertama kali.

Entah beberapa bulan lalu, pernah satu kali aku tidak hadir dalam rapat koordinasi. Alasanku jelas, kuliah. Lagipula hari itu tidak ada yang perlu dikoordinasikan secara khusus dari mulutku. Tapi pukul 4 sore, telepon tak terjawab dari seorang anggota rapat berkali-kali dilayangkan. Sambil spam chat dan bilang, “elu dicariin, katanya kalo udah selesai kuliah ikut rapat.

Jujur, dendam.

Rapat tanpa agenda adalah salah satu agenda paling aku benci.

Bahkan aku baru buka pesan itu jam 4 sore, dan seharusnya rapat selesai jam 5 sore. Aku sampaikan bahwa aku tidak bisa hadir. Tapi sore itu juga, jam setengah lima sore, teleponku bunyi lagi, dengan pertanyaan sama, ‘kapan ke sini?’. Aku? Presiden kah? Rapatnya gagal tanpa aku kah?

Sore itu juga, saat sedang beristirahat 5 menit setelah sampai dari UPM siang berbaju putih yang menyebalkan itu, aku pergi rapat. Tau apa? Sampai di sana, tidak ada tanya, tidak ada koordinasi, tidak ada keputusan yang mengharuskanku hadir saat rapat.

Percayalah, ini bukan pertama kali.

Isi Kepalaku Berisik

Aku sadar bahwa salah satu cara terbaik untuk mengurangi emosiku adalah meluapkannya dengan perasaan tulus. Marah, kesal, menangis, tertawa, atau cara apapun untuk meluapkan asal tidak menyakiti siapapun, termasuk aku sendiri. Makanya aku menulis. Aku merilis emosiku sendiri, karena aku tau tidak seorang pun ingin aku repotkan harinya karena emosiku yang tidak stabil.

Kenapa aku bekerja dengan sangat keras. Kenapa aku berteman dengan sangat tulus. Kenapa aku menulis dengan sangat giat. Kenapa aku berkomunikasi dengan sangat jelas. Karena aku butuh merilis emosiku yang tidak stabil ini.

Isi kepalaku berisik sekali.

Makanya aku butuh menuangkannya.

Karena satu-satunya air mata yang turun karena sedih dari emosi yang tidak stabil itu harus diturunkan dengan cara menulis. Setiap menulis, aku bisa menangis. Setiap menangis, emosiku rilis. Rilis dengan logika. Bukan di atas kasur tanpa aba-aba yang membuat mataku sembab di esok pagi. Dengan menulis, posisiku duduk, nangisku di depan komputer, dengan tisu yang sudah aku siapkan, mengelap kala wajahku mulai risih karena berair, dan menjadi sebuah tulisan yang bisa aku baca lagi nanti saat pikiran warasku sudah kembali.

Aku merefleksikannya.

Aku tau, emosiku tidak bisa disimpulkan saat ini. Jadi dengan menulis, aku merasa keputusan tentang kesimpulan sebab emosiku saat ini bisa aku tunda sampai pikiranku benar-benar waras.

Bahkan di saat genting emosiku saat itu hingga hari ini, yang bertanya aku kenapa hanya diriku sendiri. Aku pandai sekali berkamuflase, seolah aku tidak masalah, padahal pipiku basah. Aku sendiri bingung, kenapa seringnya tidak butuh bantuan orang. Aku sendiri pusing, kenapa sulit sekali berbagi keluh. Aku sendiri bingung.

Mungkin aku butuh dipancing. Tapi aku sadar tidak sekalipun memasang umpan.

Berhenti menuduh sombongku.

Isi kepalaku sudah terlalu berisik.

Mendadak MC (bukan alasanku pulang), karena MC seharusnya tidak bisa hadir


@ossidduha

17826

 

 

 

Komentar

Postingan Populer