Tugasku adalah bicara tentang benar, dan kewajibanku meluruskan yang salah. Tapi kalau sikapku disalah artikan, berarti perasaanku sedikit mati. Aku pikir semua orang berbaik hati. Jadi minta maaf kalau baik hatiku melukaimu. Aku nggak pernah menyangka, lambaian di hari pertama itu berbuah rasa yang manis tanpa kata.
Aku pikir, aku sendirian setiap hari.
…
"Sid, kamu pernah dikuntit orang nggak?"
Hah?
Makanku berhenti, persis sebelum tersedak. Menoleh mengernyitkkan dahi dengan tatapan, 'maksudnya?'.
"Iya, diikutin orang sampai ke rumah gitu maksudnya," katanya dengan nada lirih sambil entah memandang ke sebelah mana.
Aku membenarkan posisi dudukku, menutup kotak bekalku, memaksanya duduk menghadapku. “Tolong kasih tau gue spesifik ceritanya. Jangan ngomong setengah-setengah kayak gitu,” paksaku sambil meluruskan wajah dan pandangannya ke arahku. Lia namanya, sahabatku.
Akhirnya jam istirahat empat puluh lima menit itu habis untuk dia menjelaskan bagaimana dia merasa dikuntit seseorang. Ia menunjukkan bukti yang diam-diam dia kumpulkan sejak dua bulan terakhir. Entah itu berupa foto, atau hanya ingatan yang dia sendiri nggak bisa mengingatnya dengan jelas. Bukan orang asing, tapi nggak cukup disebut kenal. Ia hanya bertemu beberapa kali saat pertemuan komunitas. Tanpa tatap, tanpa cakap.
Sebutlah Biru.
Laki-laki kurus 10 cm di bawahku dengan skinny jeans dan hodie hitam favoritnya. Bukan familiar, tapi aku bisa membayangkan wajahnya karena beberapa kali di satu kelas mata kuliah umum yang sama.
“Aku nggak ngerti maksudnya apa, tapi dia sering ambil fotoku tanpa izin,” jelas Lia sedikit lagi.
Dia mengumpulkan tangkapan layar foto selfie dari akun instagram Biru yang menampakkan Lia berada di sebelahnya, di belakang, siluetnya saja, atau bahkan hanya kain hijabnya saja. Mungkin suka, mungkin obsesi. Lalu beberapa kali tertangkap mengikutinya sampai ke kos tempat tinggalnya, padahal jelas sekali ia tinggal di jalan lawan arah ke kosnya.
“Sini gue aja yang labrak.”
“Ih Sid, tapi jangan galak-galak. Ditanya baik-baik aja dia mau apa. Terus kasih tau aja jangan ikutin aku ke kos,” mohon Lia dengan lembut.
Anak Padang satu ini memang selalu berprasangka baik, padahal wajahnya sudah setengah mati ketakutan. Lagipula siapa juga yang mau labrak betulan. Labrak itu kan hanya konotasi saja. Paling juga keberanianku cuma sampai wawancara singkat saja. Aku nggak punya bekal ilmu bela diri, tentu aku yang lebih harus menjaga diri.
“Sama jangan dimarahin ya Sid, tenang aja cara ngomongnya,” lanjut Lia.
Waduh, kalau ini perlu aku pertimbangkan. Ngobrol santaiku dengan Lia saja sudah seperti orasi, apalagi punya niat labrak meski kecil.
 |
| foto 1: perkenalan pertama formal |
Singkatnya, aku mengirim pesan lewat Instagram. Hanya bekal username, perkenalan singkat, menyebutkan nama sahabatku, dan kuajak bertemu. Tanpa ba-bi-bu aku menyuruhnya menunggu di lantai dua gedung A sepulang kuliah pukul 15.00 WIB. Bahkan aku sampai lima menit lebih dulu, menyuruhnya bersegera. Dan seperti biasa, dengan celana skinny jeans hodie khas gaya favoritnya. Ada kursi tunggu di depan ruang dosen. Sepi dan sedikit menggigil, dingin.
“Lu pasti udah tau apa yang bakal dibahas kan. Intinya gue mau sampein pesen dari Lia, kalau dia amat terganggu diikuti sampai ke kosnya. Mungkin lu nggak jahat, tapi nggak etis aja,” jelasku sedikit gugup. Karena ini pertama kalinya aku berani menegur laki-laki. Biasanya aku jago labrak, tapi ke sesama perempuan aja.
“Oh sama satu lagi, tolong juga stop untuk potret temen gue dari sudut manapun. Dia bercadar, dan dia nggak nyaman tubuhnya masuk dalam frame, apalagi laki-laki,” lanjutku. “Silahkan ditanggapi, gue siap mendengarkan,” selesai aku bicara, sebagai penutup labrak lembutku.
“Oke, kenalin gue Biru. Gue berterimakasih karena udah konfirmasi langsung. Tapi maaf banget, gue nggak ada maksud jahat sama sekali, cuma kagum aja sama temen lu itu. Lagian dia di komunitas juga ga banyak ngobrol, jadi gue ngerasa ngefotoin dan mastiin dia balik sampe kosnya udah cukup bikin kagum gue tersampaikan …” dan bla-bla-bla penjelasannya yang panjang sekali.
Intinya dia kagum, katanya. Tapi, aneh.
Pokoknya sampe jam empat sore gue cuma dengerin dia cerita. Dia jelasin gimana kagumnya dia ke sahabat gue. Lalu dia cerita bagaimana dia kurang diperhatikan di lingkungannya. Lalu dia cerita kalau sejauh ini dia baru bisa merasakan jatuh hati yang positif. Lalu dia cerita nggak menyangka akan ditegur secara langsung perkara tingkah yang menurutnya bukan masalah. Lalu dia cerita kalau dia nggak tau cara mengekspresikan rasa kagumnya kepada seseorang. Oh. Dia juga cerita kalau dirinya susah sekali minum air putih, lebih senang minuman berperisa seperti kopi, teh, soda, dan lainnya.
Kalau dipikir lagi, ini kan memori masa lalu ya. Kenapa dia sampai cerita kalau dia susah minum air putih ya. Padahal itu konteks yang nggak ada hubungannya dengan materi labrakku sore itu. Entahlah, aku lupa. Mungkin karena aku terlalu banyak mendengarkan tanpa interupsi. Intinya hari itu dia cerita panjang lebar, dan aku hanya mendengarkannya sambil mengangguk, sesekali ‘oh’ atau ‘wah’.
Aku pergi saja sore itu. Aku anggap selesai. Lagipula penjelasannya nggak bisa diterima juga. Cuma peringatanku sudah tersampaikan. Bagiku cukup agar sahabatku tidak dikuntit lagi.
“Dia kagum sama lu. Nggak gue marahin kok, gue malah lebih banyak dengerin dia ngomong. Tapi gue jamin dia nggak akan nguntit lu ke kosan lagi,” laporan singkatku. “Oh satu lagi, dia curhat susah minum air putih.
“Lah, ngomongin apa emang, kok sampe curhat air putih?” tanya Lia.
“Nggak tau, lupa.”
Aku lupa persisnya. Yang jelas saking banyaknya dia bicara, aku mengutip beberapa kalimat yang unik-unik saja. Aku nggak bilang bosan, aku hanya banyak berpikir. Sepanjang dia bicara, aku hanya berpikir. Kalau sore itu bukan aku yang melabrak, apa bicaranya akan sebanyak itu juga? Bagaimana dia bisa mengutarakan itu kepadaku yang entah siapa. Bahkan niat dan caraku melabrak pun bisa jadi sudah bikin mood hilang. Tapi dia tetap datang, tetap mendengarkan, dan menanggapi teguranku. Meski bicaranya setelah itu lebih banyak.
 |
| foto 2: diksi labrak lembutku di lantai 2 |
Aku bersahabat dengan caraku.
Setelah pertemuan sore itu, aku mencoba mengubah sudut pandangku. Melihat bagaimana cara suka seseorang punya bentuk yang berbeda-beda. Mungkin bukan hanya aku, tapi seringnya aku. Bertemu dengan manusia lucu, mempersilahkannya untuk mampir. Dan aku nggak masalah untuk menjadi pendengar di antaranya.
Di dunia yang berisik ini, mungkin kita nggak punya ruang untuk bicara. Tapi kalau ada satu ruang kosong yang dipersilakan kita masuk dan bicara di dalamnya, mungkin bisa jadi ruang ajaib.
Kita juga sama-sama manusia yang dititip Tuhan untuk berbuat baik di dunia. Bedanya, aku membuat ruang itu sendiri agar bicaraku bisa banyak setiap hari. Tapi di dunianya, dia sendirian. Dia nggak punya ruang dan nggak mencipta ruang. Barangkali pasrah, barangkali bingung.
Sore itu jadi gerbang pembuka percakapan yang sangat banyak. Setelahnya, aku mendengar kuliahnya yang satu tingkat di atasku itu tidak pernah selesai. Dia memutuskan cuti dan bekerja. Aku mendengar ceritanya tentang anime yang aku juga suka. Bertukar karakter favorit. Sesekali bertemu untuk dia menjelaskan bagaimana keluarganya berkabung karena ayahnya meninggal beberapa tahun lalu. Aku mendengar ajakannya untuk makan karena berulang tahun, bahkan aku sempat memberinya ucapan selamat dan hadiah ulang tahun. Aku mendengar perempuan baru yang dia kagumi lewat depan kantornya setiap pukul 9.00 WIB.
Aku banyak sekali mendengar tentangnya.
Aku nggak punya niat apapun selain ingin menghargai ceritanya.
Aku berbaik sangka pada rencana Tuhan dalam semua pertemuan baru.
 |
| foto 3: percakapan terakhir dan tercanggung |
Sampai tiba-tiba, percakapan itu muncul.
Semua cair itu membeku. Aku kebingungan menanggapi, karena takut salah arti.
Sejatinya, aku manusia yang tidak selalu siap.
Jadi, jika aku siap, aku juga siap disalah artikan.
Dan saat itu, belum waktunya.
Ossidduha
20426
Komentar
Posting Komentar