dua puluh delapan

 


Halo

Minggu lalu aku ulang tahun loh. Sembilan Oktober selalu jadi tanggal bahagia yang bikin awal bulan Oktober jadi hari yang baru. Apalagi usia dua puluh delapan tu apa ya, haha. Terlihat banyak dan menua, tapi sepertinya nggak begitu juga ya. Mungkin menurutku, aku jauh lebih muda dari usiaku. Mungkin. Azek.

Sejak aku lahir, kayanya aku nggak pernah dapet stimulus tentang ulang tahun.

Aku nggak pernah dirayakan, atau mendapati trauma di hari ulang tahun. Semua flat dan tidak penuh emosi. Tapi mungkin aku mengenal perayaan ulang tahun sejak di asrama. Peristiwa hangat bernama surat yang dikirim mamahku dengan tulis tangannya yang rapih itu, selalu dikirim bersama paket bulananku dari Cilacap.

Kadang kakakku juga membuatkan surat panjang dan beberapa hadiah kecil seperti buku diary dan lainnya.

Begitu juga temen-temen SMP ku yang sampai sekarang masih bersama, jadi kesan perayaan ulang tahun ini nggak pernah berubah sama sekali. Selalu ceria, senang, dan mengejutkan.

So, here we go. Ini refleksi dua puluh delapan tahunku yang membanggakan.

Hadiah Ulang Tahun

Karena terlihat dan menonjol, maka hadiah ulang tahun adalah yang utama.

Dalam kelompok teman yang nggak lebih dari empat orang ini, kami punya janji saling meminta dan memberi kado. Tahun ini, aku nggak request apapun. Aku hanya meminta sesuatu yang pantas dan bisa aku gunakan agar nggak mubazir.

Satu anak paling muda yang di ulang tahunnya lalu minta dibelikan tas eiger lumayan mahal itu, tiba-tiba kasih emas. Dari Peni. Berapa gram aku nggak ingat. Nggak dipakai, tapi mungkin akan berguna. Nanti.

foto: kado emang yang nggak pernah ada dalam bayangan

Kalau Asma, nggak bertanya apapun. Cuma memintaku memilih warna dan menanyakan ukuran yang aku sendiri butuh dibantu Husna. Haha. Lalu terbitlah gamis sedikit satin dengan model cutbray lengan dan kakinya. Sebagai orang yang jarang sekali beli baju bermodel, mungkin ini keinginan teman-temanku agar aku punya gaya baru bermode.

Kalau Husna, lain dari yang lain, kali ini aku request. Aku nggak minta dibelikan barang, tapi aku minta waktu untuk makan bersama. Spesifiknya ramen dan sushi. Entah kapan, sepertinya sudah lama sekali nggak makan di luar. Aku sibuk. Pekerjaanku, kuliahku, dan prioritasku yang nggak ku atur untuk makan di luar. Sampai selama makan, Husna cuma bilang “lu keliatan seneng karena makan ramen, pergi sama gue, atau karena lu lagi ulang tahun?”. Nggak tau juga, aku bahkan nggak punya jawaban untuk itu.

foto: makan sushi dengan Husna

Terakhir kado dari adikku, dia belikan aku kemeja hitam dengan kancing serong. Sejak awal, aku memang minta dibelikan baju sih. Karena akhir akhir ini, di kampus lagi suka pakai kemeja. Mungkin biar nggak keliatan seperti LDII wkwk. Karena aku pernah dapat komentar soal gaya, katanya aku mirip orang LDII. Entah di bagian mana, sejak itu aku selalu ke kampus dengan gaya mode lebih kekinian. Aku menanggalkan semua gamisku di jam kuliah luring. Makanya aku secara khusus request dibelikan kemeja yang bukan tunik, tidak crop top, dan pas di tangan panjangku.

Dan terakhir, kue ulang tahun. Sejujurnya aku nggak pernah suka kue ulang tahun karena rasanya terlalu manis. Aku bukan tipe suka makanan manis, jadi kadang nggak dihabiskan. Tapi khusus di hari ulang tahun, semua kue ulang tahun aku habiskan dengan penuh suka cita.

Kue ualng tahun pink venom dari Afie bahkan aku habiskan dua hari. Dan cheesecake kesukaanku aku makan di hari Minggu tanpa sisa.

foto: kue pink venom dari Afie

Pindah Tempat Tinggal

Salah satu target utamaku di dua puluh delapan ini adalah serumah dengan orang tuaku.

Bulan September lalu, aku dengar kalau papahku sakit. Itupun nggak kudengar langsung. Hari di mana aku yang jarang sekali cek status wa ini, tiba tiba kepikiran bukan status papah. Hari itu kelihatan seperti sebuah ruang di sudut puskesmas. Tanpa ba bi bu, karena aku tau papahku bukan penulis yang bagus, aku wa mamahku. Untuk tanya kenapa papah ke puskesmas, dan dengan siapa.

Hari itu aku baru tau kalau papahku punya keluhan kesehatan. Katanya batuknya tiada henti dan beberapa hari terakhir kesulitan menahan buang air kecil.

Aku loh anaknya, jujur kaget, sedih, campur bingung. Ini perasaan apa ya. Sebenernya gejala seperti ini nggak bikin aku kaget, cuma sedih aja karena aku nggak jadi prioritas untuk informasi penting begini.

Hari itu juga, besoknya aku langsung bilang ke mamah kalau aku mau cari kontrakan rumah agar bisa aku boyong semua dalam satu rumah. Aku nggak khawatir soal apapun, aku cuma kepikiran di masa tua mamah papahku, aku bisa lihat perkembangannya.

Dalam hidupku, nggak pernah ada rencana untuk tinggal dengan orang tua.

Aku nggak pernah merencanakan serumah dengan orang tua karena buatku itu tantangan yang sangat besar. Aku tumbuh sejak remaja tanpa aturan dari orang tua. Walaupun aku diatur di asrama, tapi aku nggak pernah punya ikatan batin khusus dengan orang-orang di asrama. Artinya aku bisa membantak, memberontak, atau pergi kapan saja. Sedangkan dengan orang tua, tentu aku punya etika sendiri untuk menerapkan itu semua. Jadi, keputusan pindah tempat tinggal adalah keputusan yang besar.

Sejak awal September, aku udah beberapa kali kasih tau ke mamah tempat tinggal yang bisa disewa. Tapi nggak tau kenapa, mamahku nolak dan selalu bilang nggak mau. Alasannya karena mau cari yang lebih dekat dan bisa berjalan kaki pulang balik kerja.

Jujurrr…

Awalnya aku agak berat juga untuk mengiyakan kontrak rumah yang sekarang. Karena itu dekat sekali dengan asrama. Aku tau aku punya ikatan pekerjaan khusus di asrama. Jadi kalau terlalu dekat, pasti beban kerjaku akan lebih besar dengan bisa dipanggil kapan saja ke asrama.

Berat banget untuk bilang itu.

Karena asramaku tu apa ya. Aku nggak bilang toxic, tapi toxic.

Toxic karena seringnya nggak menoleransi kegiatan hiburan pribadi, sedangkan aku tumbuh sebagai pemberontak dengan macam-macam isi kepala.

Tapi akhirnya aku mengalah.

Setelah sebulan rumah yang dibilang mamahku itu, benar-benar kosong. Persis di hari ulang tahunku 9 Oktober, pemiliknya mencari tuan rumah baru karena penyewa sebelumnya hanya menginap sebulan saja. Ya mungkin ini pertanda. Karena dengan ini, rumahnya jadi bisa aku sewa.

Setelah aku lihat, ternyata cukup comfy. Ada dua kamar di dalamnya, lengkap kamar mandi dan dapurnya, serta satu ruang besar di tengah.

Sebagai orang yang sering pindah-pindah rumah sejak kecil, ini bukan hal baru. Aku nggak begitu kaget dengan suasananya. Cuma mungkin aku harus adaptasi agar posisinya di rumah ini, nggak menjadi dualism atas kerjaku juga di asrama karena lokasinya yang terlalu dekat.

Target selanjutnya di rumah yang isinya sudah sepaket keluargaku ini, aku berharap bisa mengenalkan lebih banyak teman-teman baruku ke orangtuaku. Aku ngerasa banyak gap dan komunikasi yang tidak cukup baik karena kami nggak serumah.

Lalu karena aku ngerasa, kedekatan dengan teman-temanku sudah cukup baik, aku merasa sudah mulai bisa ditinggal satu persatu. Teman satu kosku, Peni, dia sudah jauh lebih baik. Dan terapi emosiku juga sudah lebih terkontrol. Jadi sepertinya aku sudah mulai siap untuk tinggal serumah dengan orang tuaku.

Aku berharap orang tuaku kenal teman-teman kampusku, kerjaku di Owrite, dan siapa tau seorang yang akan datang menemui orang tuaku langsung. Bahkan aku berharap, cerita randomku setiap hari yang seperti aku ceritakan ke teman kosku bisa mulai aku bagikan kepada orang tuaku. Aku ngerasa di waktu yang pastinya nggak akan lama ini, aku ingin menghabiskan waktu yang paling baik. Entah aku akan menikah nantinya, atau mamah papahku lambat laun tapi pasti akan meninggalkan kami semua. Setidaknya aku perlu bersiap untuk semua kemungkinan.

Dua Puluh Delapan

foto: photobooth diajakin adik-adikku

Aku dapat kesan yang sangat baik di ulang tahun kali ini. Bener-bener perasaanku berbunga-bunga, Bahagia, ceria, senang.

Aku nggak tau karena apa, tapi yang kupasti karena banyak ragu-ragu yang aku luruskan dan nggak aku lanjutkan. Sehingga aku lebih percaya diri untuk memilihku sebagai pribadi yang bahagia.

Di waktu yang sebenarnya sudah lewat dari target menikahku, aku nggak punya harapan apapun selain bisa bertemu dengan orang yang baik. Karena seringnya aku dibuat bingung. Diminta berpikir seolah aku selalu jadi sumber pembuat keputusan itu.

Untuk kesempatan yang hanya bisa aku dapatkan sekali seumur hidup ini, aku berharap bisa menjadi pribadi yang berbeda. Aku nggak ingin menjadi dewasa dan menunjuk jalan. Aku ingin lebih santai, penuh cinta dan mencipta hangat pada hal yang sudah ada buku panduannya.

Meski sudah lewat, semoga aku bertemu dia yang paling baik di usiaku sebelum tiga puluh tahun.

Karena aku yakin, lebih dari tiga puluh tahun, kemungkinan untuk menjalin hubungan sampai ke pernikahan akan lebih banyak pertimbangan, atau benar-benar mustahil.

Jadi ya Allah, bantu luluhkan hatiku, berikan aku cinta yang utuh, dan perasaan saling membutuhkan satu sama lain sebelum sampai pada pasrah tanpa usaha di kemudian hari.

Jadikan aku manusia yang penuh harap dan bergantung pada-Mu lewat orang-orang yang Kau titipkan dengan penuh cinta di hidupku.

Aku nggak pernah berharap siapa, tapi aku berharap kapan dan bagaimana jalannya.

Semoga Engkau mendengar doaku yang baik ini.

Karena aku ingin sekali menjadi pasangan yang penuh cinta, dan ibu dari anak-anak pintar yang memiliki cinta utuh dari pasanganku yang juga memberiku cinta dengan utuh.

Terimakasih Allah, sudah menerimaku di dunia ini menjadi manusia yang penuh harap. Karena tiada harap yang lebih indah selain membayangkan kabulku langsung dari-Mu.


101926


 

 

Komentar

Postingan Populer