tafsir pribadi
Mata Rabunku
Untuk pertama kalinya, hari ini aku berangkat kuliah dengan
tidak membawa kacamata, bahkan cadangannya. Biasanya untuk memaklumi lupaku
yang begitu kalut, aku selalu membawa satu cadangan kacamata hitam bulat yang
modelnya tidak aku suka. Tapi hari ini dua-duanya entah di mana.
Mata rabunku ini sudah sejak lama sekali. Kalau aku sampai
tidak membawa keduanya, berarti salahku bak dosa besar tiada ampun yang mengganggu.
Dan hari ini aku melakukannya.
Semalaman aku belajar dengan memfoto papan tulis dan
tampilan layar di depan agar mataku bisa membaca huruf yang tersusun rapi dalam
sebuah kalimat tapi tak terjamah di mataku.
Sebenarnya aku nggak masalah. Tapi ini malam hari. Bahkan aku
sempat nggak menyapa balik orang yang menegurku agak sedikit kencang hanya
karena tidak kelihatan. Untungnya aku hafal suaranya. Kalau saja sore itu aku lupa
suaranya, lengkap sudah salah paham berikutnya.
Rambut
Panjangku
Nggak tau bisa disebut pencapaian atau bukan, tapi aku bahkan
nggak menyangka bisa memanjangkan rambut tanpa berisik.
Selama hidup 28 tahun ke belakang, nggak pernah ada riwayat
rambut panjang. Aku selalu banyak mengeluh saat anak-anak rambut sudah mulai
dewasa. Bahkan seringnya aku menjelek-jelekkan mereka yang merawat rambutnya
terlalu panjang. Mungkin waktu itu terasa seperti kebanggaan, tapi padahal sepertinya
aku hanya iri karena belum pernah berhasil memanjangkan rambut tanpa mengeluh.
Rambutku selalu pendek. Sangat pendek. Bahkan untuk
menatanya, seringnya aku tidak butuh sisir. Jari-jari tanganku yang tebal
bahkan lebih mudah untuk menatanya daripada alat berjari-jari tipis bernama
sisir itu.
Aku juga bingung, kenapa dulu aku sangat membanggakannya.
Bicara seolah orang berambut pendek adalah orang yang tidak
banyak cengcong. Bicara seolah berambut pendek adalah jalan tengah
menuju cepat yang selalu aku gaungkan itu. Bahkan aku bicara seolah beruntungku
datang karena aku jarang pusing soal rambut yang harus kuurus, kutata dan kuperhatikan.
Bodoh ya ternyata aku.
Tapi, setelah sejak pertama kali memulai hidup baru di kos
kecil ini, aku membiarkannya tumbuh tanpa dipotong sedikit pun. Entah sibuk atau
tidak peduli, malah tidak terasa ia memanjang begitu saja. Mungkin yang
membuatku jadi sangat tidak terasa karena aku tidak mengeluh sama sekali.
Saat ujung rambut mulai menyentuh bahu, memang aku mengeluh risih.
Tapi aku nggak membuat inisiatif memotongnya seperti saat sebelum-sebelumnya.
Aku tidak membuat sayembara sedikitpun kepada siapapun tentang potong rambut
yang biasanya selalu aku lakukan.
Bahkan saat mulai bisa diikat dengan baik, aku membiarkannya
menggantung dan berbolak balik ke kanan kiri saat lariku kencang. Kemudian saat
mulai lebih panjang, demi menghindari cepol rambut yang kelihatan di kerudung,
aku membuat kepang setiap hari. Aku lipat ke kanan, kiri dan tengah sesuai pilah
asal yang tidak bisa aku lihat karena kepangnya di belakang kepalaku dengan
tanganku sendiri.
Aku jarang sekali minta bantuan. Bahkan nggak pernah.
Sekalipun untuk kepang rambut yang menjadi kebutuhanku agar
tidak mengganggu kegiatanku, aku lakukan sendiri.
Kini setiap malam, lurusku bergelombang karena bekas kepang
seharian yang sengaja aku ikat tidak terlalu kencang. Kadang ketika berkaca,
aku bergumam sendiri dalam hati.
“Oh, ternyata aku bisa merawat rambutku juga”
Berarti selama ini, aku membuat mitos sendiri atas
ketidaksukaanku pada rambut panjang. Aku membuat dongeng seolah rambut pendek
adalah beruntungku selama ini. Dan dongeng itu ternyata cuma bohong untuk
menutupi ketidakbisaanku dalam merawat rambutku sendiri.
Aku jadi tahu kalau selama ini aku membuat buku tafsirku
sendiri.
Seolah yang aku suka adalah yang paling baik untuk aku
terima. Membuat narasi tentang susah pada hal yang tidak aku suka. Membiarkan
suka yang aku gaungkan selama ini karena yang tidak aku suka belum bisa aku dapatkan.
Membuat karangan fiksi seolah yang tidak aku suka juga tidak bisa aku terima.
Padahal narasi itu dicipta sebab pemiliknya bukan aku.
Mungkin ‘sok tau’ adalah nama tengahku.
Mendoktrin diri seolah aku tidak butuh ini dan itu, padahal karangan
itu dibuat karena dalam pikiranku memaksa untuk sampai ke sana adalah mustahil.
Dan mungkin ‘realistis’ adalah nama belakangku.
Karena sibuk, lelah, dan entah yang membuatku lebih memilih
meniadakan agenda hiburan agar jalan cepatku tidak terhalang. Membuat alasan
begini dan begitu hanya supaya aku nggak terlalu sedih atas keberhasilan yang
gagal aku dapatkan.
Mungkin dalam diksi singkat ini, hanya soal rambut. Tapi
barangkali dalam makna yang lebih luas, ini caraku menhibur hati agar hal yang
nggak bisa aku dapatkan tidak membuatku merasa gagal. Padahal selama ini aku
ditipu doktrin yang kubuat dan kubawa ke seluruh hidupku, sendirian.
Atau mungkin ini caraku bertahan hidup agar mustahil yang
selalu aku idolakan itu tidak masuk dalam daftar keinginan. Sehingga aku nggak
perlu berusaha terlalu keras untuk membuatnya ada. Walaupun sedemikian rupa
dalam hati setelah kudapatkan hari ini, aku menangis karena ternyata inginku
dikekang oleh ketidakmampuanku mencipta suasananya.
Aku nggak tau, hari ini adalah pesta perayaan berhasilku atau
meromantisasi bentuk ketidaksukaanku selama ini. Tapi yang jelas, beberapa
minggu terakhir, aku lebih ceria di depan cermin.
Butuh alasan atau tidak, sepertinya itu tidaklah penting untuk hari ini.
141026
.png)


Komentar
Posting Komentar