dunia baru
Hai,
Its been a long time ya.
Tadinya aku mau nulis ini setelah pulang liburan dari
rencana ke Banten. Tapi berhubung pergi ke Banten nya nggak jadi, jadi aku mau
merangkum kegiatanku belakangan ini.
Enjoy.
Perpanjang
Kontrak
As u know guys, aku kan emang lagi magang ya di
Owrite. Seharusnya, pertengahan bulan September, kontrak magangku selesai. Tapi
di awal bulan September, tiba-tiba temenku wa aku menawarkan untuk ikut pergi
liburan ke Banten, agendanya bulan Oktober. Yaa, sebagai korporat yang tahu
diri, aku balas emangnya aku diperpanjang?.
Kemudian lewat info A1 temanku inilah, aku tahu kalau aku
akan diperpanjang sebelum HRD mengontakku langsung.
Dan bener aja, di hari Senin minggu depannya, HRD kontak aku
dan kasih tau kalau aku diperpanjang kontrak. Tapiiii, ada tawaran tentu juga
ada syarat. Syaratnya adalah, target menulisku ditambah. Sebelumnya, aku punya
kewajiban menulis minimal 5 artikel, tapi di agenda perpanjangan kontrak ini
aku diminta memenuhi minimal berita yang ditulis harian yaitu 7.
![]() |
| foto: tawar menawar target menulis harian sebelum perpanjang kontrak |
Sebenernya aku nggak banyak berpikir sih soal tawaran ini, soalnya hanya selang 5 detik dengan pertanyaan apakah ritmenya masih sama yaitu WFH, kemudian diiyakan, maka detik itu juga aku mengiyakan syaratnya.
Aku bukan orang yang basa basi dan penakut. Jadi syarat
tambahan tugas menulis itu hal kecil. Azek.
Ya dengan tawar menawar via whatsapp itu, maka otomatis
kontrakku diperpanjang. Surat ttd kontrak pun dikirim di chat whatsapp. Pokoknya
semua komunikasiku dengan pihak kantor selalu lewat whatsapp.
Senang?
Jujur biasa-biasa aja.
Ini tuh tawar menawar pekerjaan aja. Wajar. Normal. Jadi bukan
hal yang membahagiakan sekali atau perlu dirayakan dengan heboh. Tapi aku
sangat sangat bersyukur.
Bersyukur karena aku akhirnya bisa punya pekerjaan remote
yang nggak perlu pergi ke kantor dengan pakaian rapih. Bahkan bersyukur karena
akhirnya, di usia yang cukup matang ini, aku punya pekerjaan lebih dari satu
secara profesional yang mungkin belum bisa dirasakan banyak orang. Tentu bagian
ini aku harus bersyukur.
Memang honor dari menulis nggak seberapa, tapi kayak oh
uang jajanku nambah, makasih Allah. Aku tuh tau banget apa yang aku lakuin
ini belum tentu bisa dilakukan banyak orang. Soal kemampuanku, kesehatanku, ritme
kerja buru-buruku, memenuhi target versiku, dan menjaga kewarasan di tengah
aktivitas kerjaan utama, part time dan kuliah malamku itu gila banget sih. Maka
itu aku bersyukur.
![]() |
| foto: Alhamdulillah diperpanjang secara resmi |
Terimakasih Allah Yang Maha Baik.
Teman
Baru
Karena magang di Owrite, aku jadi punya teman baru yang
sangat berbeda. Kalau di tahun 2026 awal aku pernah bilang punya teman baru
dari kuliah malam, nah kali ini tuh teman baru di pekerjaan yang berbeda.
MasyaAllah.
Temen-temenku kali ini adalah sesama reporter.
Hari Jumat 18 September, aku ada undangan rapat di Owrite.
Seperti biasa, agenda rapat rutinan redaksi aja. Tapi hari itu aku datang
telat. Sampai di ruang rapat, temen temen reporter udah kumpul. Hari itu rapat
dipimpin Pak Amin, dan ada Bang Adi sebagai asisten rapat untuk ngejelasin soal
target menulis.
Kemudian pertama kalinya seumur hidup, aku lihat di depan
mataku sendiri ada ribut rapat yang waw. Karena seumur hidup aku banyak hidup
di antara perempuan, jadi jarang sekali aku lihat sosok laki-laki marah meledak-ledak.
Kalau perempuan meledak emosinya tu sering sekali aku lihat. Tapi di rapat sore
itu, aku melihat dua laki-laki bernada tinggi mempermasalahkan pekerjaan. Aku cuma
membatin, WAW.
Bahkan seketika, rapat diselesaikan.
Ya setelah itu, reporter yang tidak bersangkutan keluar
ruangan. Nah, di luar ruangan inilah salah satu temanku bertanya. “Sid, ikut
nginep di rumah gue yuk. Malam mingguan, bakar ikan. Malam ini mau ke Angke,
beli ikannya, ikut juga yuk!” kata Iren.
Nah kenalin nih, Iren adalah teman sekelas, seangkatanku di
Jurnalistik 2017 waktu di Esa Unggul. Dialah ‘orang dalem’ yang merekomendasikan
namaku ke redaksi Owirte untuk jadi pemagang. Iren ini non muslim, tapi baik
sekali. Selama aku hidup, teman non muslim yang bener-bener bisa aku percaya
sejauh ini ya cuma Iren. Biasanya aku agak berhati-hati kalau berteman sama non
muslim, karena khawatir auratku diceritakan ke orang-orang. Tapi Iren ini beda,
adabnya bagus banget. Sejauh aku nginep di rumahnya, di rumah temenku atau
pergi yang sifatnya privat, auratku terjaga dengan baik. Dia nggak pernah
ceritakan rambutku, badanku atau apapun. Jadi, tawarannya langsung kuiyakan.
Pergilah kami malam itu ke Pasar Ikan Muara Angke. Aku,
Iren, Ka Cipa, Ka Nisa, Ka Rika dan Bang Adi pergi satu mobil milik Ka Cipa
yang dalam circle kita juga hanya beliau yang bisa bawa mobil. Luar biasa.
Intinya malam itu kami belanja ikan. Dan aku di antar naik
KRL Duri dan pulang ke Lebak Bulus naik transjakarta, jadi sekitar pukul 01.00
dini hari baru sampai kos.
Besoknya di hari Sabtu, after work aku langsung ke halte
Universitas Pancasila untuk janjian berangkat ke rumah Iren bakar-bakar malam
mingguan. Sore itu kami (aku, ka Nisa, Ani dan Difka) numpang mobil Bang Tunny.
Rencana malam mingguan ini adalah sleep over, alias
nginep. Sebenernya aku udah lama banget nggak pergi nginep ke rumah teman. Karena
sekali lagi, aku sangat hati-hati sekali kalau menginap di rumah orang. Ini berkaitan
sama auratku. Hehe.
![]() |
| foto: dari kiri (Bang Tunny, Bang Hadi, Aku, Ka Cipa, Ka Rika, Iren, Ka NIsa, Ani, dan Difka) |
Tapi, ternyata aku bisa membaur. Di tengah tengah
abang-abang dan kaka kaka reporter, ternyata aku nggak terlalu norak sih. Aku pikir,
aku akan sangat cupu. Tapi ternyata engga. Malah banyak sekali obrolan baru, pembahasan
baru, dan tentunya ilmu baru. Dan funfact, mereka juga baru pertama kali
menginap Bersama. Jadi, ini tuh kayak baru kenalan. Kami sama sama baru kenal
karakter. Dan tau kan, ada istilah bahwa cara mengenal seseorang tu minimal
pergi 3 hari atau artinya menginap gitu. Nah, di malam itu sampai besok
paginya, aku jadi belajar karakter baru.
Senangnya adalah, aku ternyata diterima di lingkungan baru.
Meskipun aku nggak berdarah reporter tulen, tapi hadirku diterima dengan baik.
Senang sekali rasanya.
Batal ke
Banten
Nah ini adalah poin ceritaku hari ini. Karena di pembatalan
pergi liburan ini, ada perasaan aneh yang harus kuvalidasi dengan baik.
Jadi, setelah malam mingguan di rumah Iren, kita diskusi
lagi soal rencana pergi ke Banten. Aku kan juga udah mengiyakan pergi ke Banten
itu, jadi aku juga udah lunas patungan untuk penginapan, bensin dll yaitu Rp265
ribu. Aku nggak ngerasa aneh, karena rencana ini sudah aku sounding ke ketua Yayasan,
kepala sekolah dan semua teman kerjaku di sekolah. Tapi ya gitu ya, di
sekolahku ni kebiasaan agak toxic soal peraturan izin izin. Jadi tiba tiba, di
hari Jumat rencana rapat itu yang setelahnya aku akan pergi ke Banten, tiba
tiba di reschedule ke SABTU.
DUARRRR!
![]() |
| foto: chat ku ke Iren yang officially batal ke Banten |
Jujur kesel sama peraturan sekolah. Tapi yaudah ya, mau
gimana lagi. Sebagai wakil kepala sekolah pun aku nggak mungkin izin juga.
Jadi terpaksa, yang harus kukorbankan adalah pergi ke
Banten. Hari itu juga, aku kabari Iren untuk kasih tahu kalau aku nggak bisa pergi
ke Banten. Aku minta maaf. Aku juga nggak enak kasih tau ke teman teman lain
karena sebelumnya udah ada yang batal satu orang dan mereka semua sedih. Jadi aku
nggak mau bikin mood mereka yang jadi pergi itu jelek, makanya aku nggak
mengabarkan ke semuanya. Aku cuma bilang ke Iren.
Untungnya Iren tau banget ritme kerja di sekolahku yang
TAKBIR sekali ini dan batal batal pergi tu udah dia tau sejak kuliahku dulu.
Jadi, alhamdulillah dia bisa bantu jelasin ke temen temen.
Nah tapi,
anehnya,
setelah dibatalin, kok aku malah lebih tenang ya?
Ini nih poin utamanya.
Jadi, aku tu termasuk orang yang sebenernya nggak menjadikan
pergi-pergi sebagai opsi healing. Aslinya, aku jarang banget pergi. Bahkan
kalau aku kabari temen-temenku mau belanja ke swalayan aja, semuanya apresiasi,
karena saking aku nggak pernah keluar-keluar selain kerja dan kuliah.
Jadi sebenernya, liburan di waktu bukan libur tuh agak sedikit
bikin hati kecilku kayak ‘ini gue ngapain ya?’
Gelisah jujur. Karena dengan adanya rencana ke Banten itu,
aku jadi harus izin ke kepsek, ketua Yayasan karena sabtunya akum au pergi. Bahkan
aku harus minta ganti jam ngajar di Sabtu karena mau pergi. Terus aku jadi agak
deg-degan karena di waktu yang sama, aku tetap nulis berita. Terus karena perginya
direncanakan Sabtu Minggu, jadi aku harus membatalkan jadwal ekskul Mingguku. Ditambah,
aku harus kasih tau adeku di hari Minggu itu nggak bisa datang jenguk. Anehnya
karena ini semua, aku gelisah banget.
Dan uniknya, setelah aku batalkan, perasaanku LEGA BANGET.
Saking leganya, sampe rapat mendadak diubah itu jadi terasa menyenangkan.
Aneh banget ya gue?
Jujur aja, perasan lega ini justru bikin aku makin merasa
bersalah ke temen-temen yang pergi ke Banten. Karena seolah olah aku nggak niat
pergi sejak awal.
Akhirnya tanpa basa basi, untuk menebus rasa bersalah karena
merasa lebih senang batal daripada pergi, aku langsung chat Iren. Aku sampaikan
bahwa, uang pergi yang sudah aku lunasi itu nggak perlu dikembalikan. Supaya
mereka nggak merasa bersalah karena aku tetap ikut patungan, padahal aku nggak
jadi ikut. Dan justru aku malah jadi merasa sudah membayar perasaan bersalahku
dengan patungan yang sudah lunas itu.
Inilah contoh orang nggak enakan. HAHAHA.
Tapi karena ini juga, aku jadi lega melanjutkan agenda
selanjutnya.
Aku rapat dengan tenang di hari Sabtu siang hingga sorenya. Kemudian
setelah maghrib, aku pergi belanja bulanan setelah gajian ditemani papahku. Kemudian
malam setelah isya nya aku masih bisa berpartisipasi dengan teman-teman di
asrama untuk menyimak tasmi’ anak kelas 9. Lalu malamnya, aku tidur pukul 00.00
setelah nonton film list yang sudah aku tandai beberapa hari lalu. Kemudian aku
tidur dengan tenang karena besok Minggu aku nggak perlu nulis. Dan bangun siang
pukul 9.30 jadi anugerah terindah. Dan bahkan aku nggak jadi batalkan jenguk
adikku di asrama karena hari itu aku nggak jadi ke Banten.
Dan bahkan, Sabtu sore itu, aku dapat kabar terima uang
kaget yang menggantikan 250 ribu, lima kali lipatnya. Walaupun itu uang hak ku,
tapi keluarnya tu persis di saat aku baru aja ngerelain uang yang nggak bisa
balik itu.
How beautifull batal pergi kali ini.
Nggak tau kenapa, ini melegakan banget.
Mungkin memang kayaknya pergi kali ini bikin hatiku gelisah.
Jadi Allah mau kasih cara supaya menghentikan gelisahku. Nggak semua healing
itu sifatnya main atau pergi. Dan mungkin Allah lagi kasih cara biar aku lebih
banyak ikhlas sama rencana-rencana yang batal itu nggak selalu gagal dan kesal.
Sekali lagi, terimakasih Allah.
Dunia
Baru
Intinya, aku senang sekali jadi bagian Owrite selama kurang
lebih 4 bulan ini. Bahkan, magang ini lebih panjang daripada masa percobaanku
waktu di liputan6.com. Aku nggak pernah menyangka, kemampuan menulisku masih di
akui di bidang reportase berita bidang lifestyle. Soalnya kadang aku juga
meragukan kemampuanku, tapi dengan diterimanya secara profesional di Owrite,
aku melihat harapan dan kesempatan atas keraguan yang lahirnya dari pikiranku
sendiri. Ini sudah cukup jadi bukti, bahwa kesempatan akan selalu lebih besar
dan terbuka daripada isi pikiranku sendiri.
![]() |
| foto: teman teman Owrite |
Jadi, jangan menyimpulkan dunia luar hanya karena asumsi
liar semata.
Karena nggak ada yang lebih ragu-ragu daripada pikiran kita sendiri.
Lagi-lagi, Allah punya kuasa.
Kemudian, ternyata hidup di dunia yang sempit dengan
kebanyakan perempuan nggak membuat aku jadi cupu berkomunikasi dan jadi teman
baik di lingkungan baru. Bahkan di tiap-tiap lingkungan aku seolah membuat
dunia baru. Di sekolahku, di kampusku sekarang, dan di Owrite. Aku jadi punya
tiga dunia yang jalannya sesuai dengan keyakinan masing-masing. Aku berada di
tiga lingkup berbeda dengan karakter yang sama. Bahkan aku nggak perlu punya
alter ego yang keluar dari syariat agar aku bisa diterima di ketiga lingkupnya.
Aku menjadi diriku sendiri di sini dan di sana. Aku nggak menghilangkan satupun
karakter utamaku. Aku tetap menjadi Ossid di manapun aku berada.
Jujur, itu menyenangkan sekali.
Aku nggak pernah merasa sebahagia ini bisa diterima di
banyak kesempatan, dibukakan pintu peluang selebar mungkin, dan menjadi baik di
semua lingkup.
Sekali lagi, terimakasih Allah.
Ini bulan Oktober,
bulan yang pas untuk bersyukur,
bulan yang pas untuk jatuh cinta,
bulan yang pas untuk mendapat cinta.
ossidduha
41026








Komentar
Posting Komentar